Tuduhan AS Benar, China Akui Korban Tewas COVID-19 Lebih Banyak

Jumat, 17 April 2020 18:32

Foto: AFP

FAJAR.CO.ID, WUHAN—Di tengah skeptisisme seputar data China tentang Covid-19, pemerintah negara komunis itu mengeluarkan data terbaru soal angka kematian yang cukup mengejutkan. Khusus di Wuhan, mereka merevisi angka kematian hingga 50%.

Wuhan yang dilaporkan menjadi kota awal penemuan kasus virus corona memiliki jumlah resmi kematiannya hingga 1.290. Media pemerintah menyatakan bahwa undercount disebabkan oleh kurangnya kemampuan penerimaan di fasilitas medis yang berlebihan. Beberapa institusi medis dan rumah sakit mereka klaim kelebihan beban.

Itu berarti angka kematian baru kota itu, dari 3.869, adalah yang terbanyak di Cina. Jumlah total kasus di kota itu – yang memiliki populasi 11 juta – juga meningkat sebanyak 325, menjadi 50.333, terhitung sekitar dua pertiga dari total 82.367 kasus yang diumumkan di China.

Kantor Berita Resmi Xinhua mengutip seorang pejabat yang tak disebutkan namanya di markas besar epidemi dan pencegahan serta pengendalian Wuhan mengatakan pelaporan yang keliru terjadi selama wabah. Itu karena kekurangan dalam penerimaan dan kemampuan perawatan.

“Beberapa lembaga medis gagal untuk terhubung dengan sistem pencegahan dan pengendalian penyakit pada waktunya, sementara rumah sakit kelebihan beban dan tenaga medis kewalahan dengan pasien,” kata sumber itu dikutip dari Metro.co.uk.

Akibatnya, pelaporan yang terlambat, terlewatkan, dan terjadi kekeliruan. Sebelumnya, muncul skeptisisme besar tentang pelaporan kasus Cina, dengan pertanyaan yang berulang kali diajukan dari berbagai organisasi di negara yang berbeda tentang keandalan data negara itu.

Wuhan khususnya telah menjadi sorotan, setelah beberapa hari di bulan Januari tanpa melaporkan kasus baru atau kematian. Hal itu menimbulkan tuduhan bahwa pejabat Cina berusaha mengecilkan keseriusan wabah dan membuang-buang peluang untuk segera mengendalikannya.

China membantah menutup-nutupi kasus-kasus itu. Pejabat itu menjelaskan bahwa kasus kematian baru ditambahkan karena kematian yang tidak dirawat di rumah sakit belum terdaftar di sistem informasi pengendalian penyakit dan beberapa kasus yang dikonfirmasi telah dilaporkan terlambat atau tidak dilaporkan sama sekali oleh beberapa lembaga medis.

Wuhan, kota di provinsi Hubei tengah mencabut larangan perjalanannya pada 8 April, setelah 76 hari melakuka lockdown. Pada hari Selasa, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memotong dana untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setelah menuduh organisasi itu membantu China untuk ‘menutupi’ penyebaran virus. (Metro/amr)

Komentar


VIDEO TERKINI