Warga Mendukung, asal Pangan Terjamin

Grafis/fajar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR –Yang penting pangan terjaga, PSBB Makassar akan berjalan baik. Hampir semua elemen mendukung.

PUBLIK memiliki harapan bersama, Covid-19 cepat berlalu. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) merupakan salah satu upaya untuk menekan penyebarannya.

Pengusaha, seniman, tokoh masyarakat, pemuda, agama, budaya, serta unsur lainnya, sepakat PSBB dilaksanakan. Tentu saja, tetap memberi akses bagi sektor-sektor penting. Sebab, selain virus, ekonomi juga penting tetap terjaga untuk kepastian suplai pangan.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulsel Abdul Rahim Yunus mendukung PSBB sebagai upaya pemerintah untuk mengatasi wabah. Semua kelompok agama juga sudah sepakat.

“Para tokoh agama sudah melakukan sosialisasi kepada umat agar tetap di rumah. Ibadah cukup di rumah saja,” katanya kepada FAJAR, Minggu, 19 April.

Dengan tidak mendatangi tempat ibadah, umat sudah ikut membantu mengatasi penyebaran Covid-19. Sebab, ibadah di rumah pun tidak akan mengurangi pahala. “Malah lebih diutamakan karena ini menghindari wabah,” katanya.

Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel Hasid Hasan Palogai mengungkapkan sudah maklumat yang meminta umat Islam cukup melaksanakan salat tarawih secara berjemaah dengan anggota keluarga di rumah masing-masing.

“Tepat apabila diambil langkah untuk masyarakat sangat dibatasi keluar rumah dan cukup berada di kota saja, jangan ada yang keluar kota,” bebernya.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Wilayah Sulselbara (Sulawesi Selatan, Barat, Tenggara) Adrie Massie berharap umat berada di rumah jauh lebih baik.

Uskup Keuskupan Agung Makassar Jhon Liku menyerukan kepada para ummat agar menjaga pola hidup bersih dan beribadah di rumah. “Gunakan masker yang baik, dan hindari bersentuhan dengan banyak orang,” bebernya.

Ketua Persatuan Umat Buddha (Permabudhi) Sulsel Yongris Lao meminta masyarakat saling menjaga dan memperingati antarumat beragama. “Itu untuk kebaikan bersama,” katanya.

Perwakilan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sulsel Ida Pandita Dharma Yadnya Samyoga bersama Ida Pandita Istri Sri Padmi Yogini juga mengajak agar ibadah dan bekerja di rumah saja.

Maslahat Utama

Sekretaris Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel Abbas Baco Miro menjelaskan dalam persfektif hukum Islam, Islam adalah agama rahmat yang mampu memberikan rahmat kepada umatnya.

Masyarakat diwajibkan taat kepada pemimpin, menghindarkan diri dari bahaya pun termasuk Ibadah. “Beberapa hukum islam dapat berubah disebabkan perubahan kondisi. Termasuk adanya wabah sehingga ada hukum yang berubah,” bebernya.

Dalam beberapa riwayat hadis disampaikan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad saw pernah bersabda; “Jangan kalian mencampurkan antara yang sakit dan yang sehat”.

“Sehingga dari dalil ini jelas, bahwa tidak bersatu atau tidak berkumpul itu, sebagai upaya menghindari dampak buruk covid saat berkumpul,” jelasnya.

Ketua Nahdhatul Ulama (NU) Sulsel Hamzah Harun menjelaskan syariat Islam sungguh sangat fleksibel. Sebab, tidak pernah memberatkan dan sesuai dengan kondisi yang dialami umat.

“Itu disebabkan ada faktor yang lebih besar diperhatikan: kemaslahatan bersama,” ujarnya.

Pihaknya meminta masyarakat, muslim khususnya, yang sudah dibekali ilmu-ilmu syariat, sebaiknya membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat yang masih mempermasalahkan persoalan ibadah di tengah pandemi.

Asa Pengusaha

Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sulsel Herman Heizer mengatakan PSBB sudah urgen. Jika lama tidak tertangani dengan baik, maka efek kerusakan ekonomi di Makassar itu bisa berjangka panjang.

Bisa menimbulkan resesi yang akan berdampak luar biasa. Makanya saat ini lebih baik bersabar dan mengurangi aktivitas yang tidak perlu dan tinggal di rumah saja.

“Usaha-usaha yang terimbas langsung, kita lebih baik bersabarlah. Sambil kita menata ulang bisnis kita agar bisa berjalan lebih baik ketika Covid-19 ini sudah selesai,” katanya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulsel Latunreng mengaku dengan penerapan PSBB, maka dipastikan kegiatan usaha itu juga lumpuh. Namun, ia mendukung langkah tersebut agar penanganan Covid-19 bisa maksimal.

“Untung dan rugi bagi pengusaha itu hal biasa. Yang luar biasa itu kalau Covid-19 ini berlarut-larut. Makanya perlukan tindakan tegas dari pemerintah,” pinta Latunreng.

Sineas film Sulsel Rusmin Nuryadin mengatakan Covid-19 tak hanya membatalkan sejumlah judul film untuk ditayangkan di bioskop. Namun, juga membatalkan syuting film baru. PSBB perlu didukung.

“Semoga masyarakat Kota Makassar dapat mematuhi larangan larangan yang ditetapkan,” tutur sutradara “Jalangkote Rasa Keju” ini.

Support Tionghoa

Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulsel Wilianto Tanta mengatakan sebagai warga negara yang baik, wajib mematuhi PSBB.
Harapannya, setelah PSBB, wabah ini berhenti. Semua bisa beraktivitas kembali secara normal. Roda ekonomi kembali berputar. Pengusaha bisa menjalankan bisnisnya dengan aman.

Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti) Sulsel Peter Gozal mengatakan sekarang kondisinya makin parah. Setiap hari, pasien terus bertambah. SPBB adalah jalan tepat.

“Kita harus selalu punya harapan bahwa semua akan segera selesai,” katanya.

Namun, sebelum PSBB diterapkan, kebutuhan pokok masyarakat harus dipastikan tersedia. “Kami sangat dukung dengan catatan kebutuhan pokok terjamin. Itu penting,” katanya.

Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Sulsel Henry Sumitomo berharap warga lebih patuh.
“Karena Covid-19 di Makassar peringkat ke-4 di Indonesia.” katanya.

Tokoh Pemuda Tinghoa Erfan Sutuno meminta masyarakat tidak berpikir bahwa pemerintah membatasi mereka mencari nafkah. “Jangan sampai pemerintah dihujat. Padahal, langkah ini adalah untuk masyarakat sendiri,” kata pemuda yang juga Ketua Generasi Muda Inti Sulsel ini. (tam-wis-mum)

REPORTER: SAKINAH-MUHCLIS
EDITOR: AMRULLAH B GANI-RIDWAN MARZUKI

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : rasid alfarizi

Comment

Loading...