Kawasan Mangrove Lantebung Dibabat, Aktivis Lingkungan: Pelaku Lihai Manfaatkan Situasi

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Aktivis yang tergabung dalam Koalisi Save Spermonde dan warga setempat memprotes dan mengecam pembalakan liar di Kawasan Hutan Mangrove Lantebung, Kecamatan Tamalanrea, Makassar, yang dilakukan oleh PT Dillah Grup beberapa waktu lalu.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sulawesi Selatan, Muhammad Al Amin mengatakan, mangrove di Lantebung merupakan kawasan mangrove terakhir di Kota Makassar yang memiliki fungsi ekologis yang tinggi bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

"Tentu perusakan yang terjadi baru-baru ini menjadi semacam tamparan bagi banyak orang, di mana karya kita, jerih payah kita, dirusak oleh mereka padahal pemerintah kota sudah memberikan ruang yang cukup aman bagi kawasan mangrove di sana," ujar Amin.

Menurut Amin, di dalam peraturan daerah (Perda) RT RW Kota Makassar telah dijelaskan bahwa mangrove di Lantebung masuk dalam kategori perlindungan terbatas.

"Sehingga ketika ada yang melakukan perusakan, itu sudah sangat bertentangan dengan kebijakan pemerintah," katanya.

Sementara itu, Yusran Nurdin dari Yayasan Blue Forest mengungkapkan, Hutan Mangrove Lantebung merupakan hasil kerja sama dari berbagai pihak sehingga wajar jika banyak pihak yang merasa marah dengan kejadian ini.

"Kenapa saya begitu marah ketika Lantebung dibuat seperti itu, karena memang ini ancaman kita. Banyak sekali pihak yang masuk ke Lantebung untuk melakukan upaya konservasi dan perlindungan mangrove," cetusnya dalam konferensi pers secara daring, Selasa (21/4/2020).

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Adi Mirsan


Comment

Loading...