Ngotot Salat di Masjid, Ketum PP Muhammadiyah Peringatkan Jemaah

Rabu, 22 April 2020 11:16

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menolak adanya peraturan menteri agama soal majelis taklim. (dok JawaPos.com)

“Ini bukan soal takut atau berani hadapi wabah, tetapi soal ikhtiar yang dari segi agama maupun ilmu dibenarkan untuk usaha mencegah datangnya wabah agar tidak semakin luas,” katanya.

Dia mengingatkan bahwa pilihan ibadah di rumah sudah berlaku di seluruh dunia Islam. Masjidilharam dan Masjid Nabawi di Arab Saudi saja tidak dipakai untuk Jumatan dan Tarawih.

“Ingat, Nabi hanya satu kali Tarawih di masjid. Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan dalam beragama. Kenapa begitu ngotot Tarawih berjemaah harus di masjid dalam suasana saat wabah meluas?” kata dia.

Terlebih dalam keadaan darurat, kata dia, semestinya umat Islam mau mengikuti mayoritas pandangan bahwa selama masa pandemi Corona ibadah dilakukan di rumah dengan khusyuk dan berjemaah dengan anggota keluarga.

Allah dan Nabi, kata dia, memberi jalan keluar dari kesulitan atau kedaruratan. Wabah kali ini bukan sekadar menyangkut satu pribadi tetapi terkait orang banyak dan menjadi pandemi.

“Bukankah Nabi mengingatkan ‘la dharara wa la dhirara’, jangan berbuat yang menyebabkan kerusakan untuk diri sendiri dan bagi orang lain. Mestinya dalam situasi darurat wabah yang mengglobal ini janganlah beragama dengan maunya sendiri-sendiri, ikutilah pendapat mayoritas yang dasarnya kuat dari Al-Quran dan As Sunnah serta konteks situasi darurat umat manusia sedunia yang tengah dihadapi,” kata dia. (ant/jpnn/fajar)

Bagikan berita ini:
8
6
5
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar