Nota Pembelian Terasi Dipalsukan, Perusahaan Merugi Nyaris Rp1 Miliar

Rabu, 22 April 2020 21:54

PEMBUKTIAN: Sutrisno (kanan) menjadi saksi untuk terdakwa Kholilah yang pernah menjadi anak buahnya. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)

FAJAR.CO.ID,SURABAYA– Kholilah, mantan karyawan CV Imperial Prima Food, didakwa menggelapkan uang perusahaan hingga Rp 950 juta. Modusnya, membuat nota palsu pembelian bahan baku makanan sehingga harganya lebih mahal daripada yang sebenarnya. Praktik tersebut dilakukan selama enam tahun, mulai 2012 hingga akhirnya diketahui pada 2018.

Terdakwa yang bekerja sebagai asisten purchasing diberi tugas membeli bahan mentah berupa bumbu dasar untuk diolah menjadi bahan setengah jadi. Dia membayar dan menerima pesanan dari supplier. Salah satunya, membeli bahan mentah berupa cakue kepada Mujiatin alias Bu Kris.

Praktik tersebut terungkap setelah Sutrisno sebagai kepala produksi mengeceknya. Saat itu, tidak ada perintah pembelian cakue sebagai bahan pembuatan lumpia mayones karena tidak ada produksi jajanan itu. Namun, ada nota pembelian cakue. Tulisan jumlah dan total harganya ditebalkan serta terdapat penambahan jumlah sehingga harganya menjadi lebih mahal.

Saat menjadi saksi, Sutrisno menyatakan, normalnya perusahaan tempatnya bekerja dalam sepekan membeli tiga sampai empat kali cakue sebanyak 100 biji. Namun, dalam nota tertulis 200 biji. ”Saya kaget kok ada cakue 200 dalam nota. Kok janggal beli 200 biasanya paling banyak saja 120. Ternyata tidak ada order, tapi ada nota,” ujar Sutrisno saat bersaksi dalam sidang di PN Surabaya kemarin (21/4).

Selain itu, terdakwa didakwa memalsukan nota pembelian terasi ke supplier. Seolah-olah perusahaan memesan terasi, tetapi nyatanya tidak. Terasi pesanan itu juga tidak pernah diterima perusahaan. Di dalam proses transaksi, perusahaan melalui bagian keuangan akan membayar pesanan setelah menerima bukti nota pesanan. Terdakwa bertugas membayar ke supplier. Namun, nota itu dianggap telah dipalsukan terdakwa.

Terdakwa Kholilah membantah kesaksian Sutrisno yang merupakan mantan atasannya. Dia mengaku bahwa pemesanan cakue dan terasi sudah sepengetahuan Sutrisno. Pesanan itu juga atas perintah atasannya tersebut yang memberikan listing apa saja yang harus dipesan. ”Setiap di gudang Sutrisno mengecek barang. Dia juga ikut order kalau saya tidak masuk kerja,” ujarnya. (jpc)

Bagikan berita ini:
1
9
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar