Ventilator Tengkurap

Kamis, 23 April 2020 08:34

Ilustrasi ventilator tengkurap

Sekarang ini tidak hanya Masjid Salman ITB yang mengembangkan ventilator: Vent-I. Tapi juga ITS, Politeknik Surabaya, dan UGM. Pun sampai universitas di Sumbawa –Universitas Teknologi Sumbawa yang didirikan Dr Zulkieflimansyah jauh sebelum jadi gubernur NTB.

Lalu apakah pembuatan ventilator non-invasive seperti Vent-I tetap diperlukan?

“Harus!,” tegas Dr. dr (dan banyak gelar lainnya) Ike Sri Rejeki dari Bandung.

Dr Ike adalah ahli anestesi dan perawatan intens. Dia mengepalai departemen itu di RS Hasan Sadikin. Juga mengepalai bidang studi itu di Universitas Padjadjaran.

Dr Ike juga pemimpin redaksi Jurnal Anestesi Perioperatif.

Saya bingung menebak orang mana dia.

“Ike itu kan nama Sunda. Tapi Sri Rejeki nama Jawa. Dokter ini orang mana?” tanya saya.

“Hahaha orang Indonesia pak,” jawabnyi. “Saya Sunda 100 persen, hanya bapak ibu saya lama di Jogja,” tambahnyi.

Dia juga asli Unpad 100 persen. Gelar dokter, spesialis, master, doktor, dan saya tidak hafal, semua diraih di Unpad.

Dan yang pasti dokter Ike adalah ‘Ketua RT’ di ICU. Dia akrab dengan batang seperti ventilator.

Ventilator yang sekarang lagi ramai diperbincangkan di Amerika itu adalah yang sifatnya invasive. Yakni ventilator yang biasanya ada di ruang ICU. Yang penggunaannya harus melalui pembuatan lubang di tenggorokan. Dari lubang tenggorokan itulah selangnya dimasukkan ke saluran pernafasan.

Komentar