Ventilator Tengkurap

Kamis, 23 April 2020 08:34

Ilustrasi ventilator tengkurap

Saya juga pernah menjalani itu. Saat transplantasi dulu itu.

Itu tidak sama dengan yang sekarang coba dikembangkan di berbagai perguruan tinggi tersebut.

Yang lagi dikembangkan itu adalah ventilator non-invasive. Yang tidak pakai perlubangan tenggorokan. Hanya lewat hidung.

“Itu sangat bermanfaat untuk situasi sekarang,” ujar Dr Ike.

Justru alat seperti itu yang belum dimiliki oleh rumah-rumah sakit. Yakni ventilator non-invasive yang independen.

Memang RS kita juga memilikinya. Tapi fungsi itu menyatu di alat ventilator invasive. Yang, ehm, yang mahal itu. Dan yang harus ditempatkan di ruang ICU itu.

Di alat itu ada mode invasive dan mode non-invasive.

Sebaiknya, kata dr Ike, penanganan pasien saat ini harus lebih fokus di stage II. Itu disebut juga tahap sedang (moderate). “Agar pasien tidak jatuh ke stage III,” ujar Dr Ike. Kalau sudah masuk tahap III (severe) penanganannya harus di ICU dan lebih sulit.

“Salah satu usaha di tahap II ini adalah ventilator non-invasive itu,” ujar Dr Ike. “Itu bisa mencegah hipoksemia,” tambahnya. Hipoksemia adalah sesak nafas akibat kurangnya oksigen dalam saluran darah.

Walhasil alat seperti Vent-I tetap penting diadakan. Justru karena independensinya itu. Yang pengoperasiannya pun mudah. Dokter umum pun bisa. Bahkan perawat sekali pun. Ini kesempatan dalam negeri untuk bisa berkembang –dari teknologi yang dianggap terlalu sederhana itu.

Bagikan:

Komentar