Sahabat TKSK, Rela Tak Digaji Demi Bantuan Sembako Tepat Sasaran

Sabtu, 25 April 2020 09:17

Nursiah, salah seorang Sahabat TKSK mendata dan membagikan bantuan dari donatur kepada warga yang membutuhkan di sekitar...

Sahabat TKSK punya andil mendata warga yang layak menerima bantuan. Tak jarang memanfaatkan jaringannya membawa donatur ke wilayahnya.

Oleh: DEWI SARTIKA MAHMUDTamangapa

Namanya Nursiah. Usianya sudah menginjak kepala empat. Ia warga Jl Tinumbu. Bukan ketua RT atau RW. Hanya warga biasa.

Namun ia menjadi garda terdepan pendataan penerima bantuan di masyarakat. Nursiah salah seorang Sahabat Tenaga Kesejahteraan Sosial di Kecamatan (Sahabat TKSK).

Pendidikannya tinggi. Dia juga memiliki banyak kenalan organisasi. Nursiah memanfaatkan kenalan itu sebagai jaringan untuk membantu warga di sekitarnya.

Tak sedikit yang datang ke wilayahnya membawa bantuan berupa paket sembako. Meski seadanya, tetapi setidaknya bisa membantu menutupi kebutuhan untuk makan sehari-hari warga yang terdampak Covid-19.

Rata-rata, pekerjaan warga di wilayahnya buruh harian dan karyawan yang kini tengah dirumahkan. “Ketika saya melihat teman-teman atau organisasi yang menawarkan bantuan, saya meminta agar wilayah saya diberi jatah dengan betul-betul mendata yang layak,” tuturnya.

Nursiah terkadang mendatangi satu persatu rumah warga dan meminta foto copy kartu tanda penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Ia tak digaji untuk melakukan pendataan ini. Namun, dia hanya bersyukur jika tidak ada tetangganya yang kelaparan.

“Alhamdulillah sudah ada beberapa yang bawa bantuan seperti Yayasan Haji Kalla dan organisasi seperti Hipmi dan beberapa himpunan mahasiswa,” tuturnya.

Sahabat TKSK lainnya, Ellin, seorang ibu rumah tangga. Dia menjadi sahabat yang memiliki kepedulian untuk masyarakat di sekitarnya.

Hampir setiap hari ia berjalan mendata warga di Tamangapa untuk diberikan bantuan. “Warga yang ekonominya sudah membaik dan telah mandiri hidupnya, berarti tidak mendapatkan bantuan lagi. Sebaliknya ada warga yang memang seharusnya mendapat bantuan sosial tapi belum terdata. Itu harus kita evaluasi,” tukas Ellin.

Ia bercerita, setiap hari mendata sekitar 50 keluarga yang memang butuh bantuan. Rata-rata ia temukan keluarga pemulung yang kesehariannya hanya bergantung pada hasil mengais sampah.

“Kalau dari Dinas Sosial kadang diberi batasan untuk warga yang memang berdampak. Tetapi kalau dari organisasi atau yayasan, biasa semua dapat tanpa terkecuali,” tuturnya.

Nursiah dan Ellin merupakan dua orang dari sekian banyaknya sahabat pendata kesejahteraan sosial yang mengabdikan hidupnya demi kemanusiaan. (*/rif/fajar)

Komentar