Iman

Aswar Hasan

Oleh: Aswar Hasan

FAJAR.CO.ID — Besi itu kuat, tapi api melelehkannya. Api itu kuat dan melelehkan apa saja, tetapi air memadamkannya. Air itu kuat, tetapi matahari dapat menguapkannya. Manusia itu kuat, tetapi dosa dan nafsu menghancurkannya.

Dosa itu membelenggu dan nafsu menjadikan manusia liar tak terkendali. Tapi iman membebaskan manusia. Maka rebutlah iman dan pertahankan, itulah bekal abadi kita yang takkan membangkrutkan di dunia ini, hingga di akhirat kelak (kata bijak).

Makna hidup kita sangatlah ditentukan oleh iman kita. Iman menjadi landasan hidup sekaligus menjadi tujuan hidup kita. Hidup menjadi mulia dengan iman, hingga mati dengan terhormat.

Persoalannya, bagaimana kita mengisi hidup ini dengan nafas iman yang tak henti dengan menebarkan kebaikan sebagai buah keimanan kita, itulah masalahnya. Betapa tidak, karena kaidah fundamental iman itu, mensyaratkan 3 (tiga) prinsip mendasar, yaitu: 1. Diyakini sebagai kebenaran yang final mengikat, 2. Dideklarasikan sebagai tekad bulat lahir batin, 3. Diwujudkan dalam amal tindakan secara konsisten dengan segala konsekuensinya.

Iman yang sejati adalah iman yang tak sepi dari ujian. Mengapa iman perlu ujian? Karena iman butuh peningkatan kualitas.

Dalam mengamalkan dan mempertahankan iman, kita sudah dibekali panduan. Panduan itu, adalah agama. Agama adalah sebuah aturan yang terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan berupa perintah dan larangan dari kehidupan, untuk keselamatan dunia hingga akhirat. Dalam mengimplementasikan agama Tuhan  telah mengutus Nabi-Nya dalam menunjukkan contoh melaksanakan agama itu.

Dalam ajaran agama itulah yang kemudian terurai mulai dari akidah yang berupa fundamen keyakinan tentang Ketuhanan, syariah sebagai petunjuk jalan berkehidupan berupa perangkat aturan yang di antaranya mengatur mana boleh, mana tidak. Hingga akhirnya akhlak yang berupa perwujudan kepribadian yang baik.

Manusia butuh panduan dalam berkeagamaan sebagaimana yang telah di contohkan oleh nabi. Dalam konteks inilah muncul prinsip mendasar, bahwa jika ingin selamat tanpa tersesat selama-lamanya maka berpeganglah pada Kitabullah (kitab Allah berupa firman-Nya) dan sunah (perilaku praktik beragama dari nabi-Nya). Itulah jalan keselamatan dalam beragama. Sebuah jalan menuju kemenangan dunia dan akhirat.

Maka berbahagialah bagi siapa saja yang telah meraih iman dan mengamalkannya berdasarkan panduan berkeagamaan.

Dengan iman, problematika hidup dapat dikendalikan dan dikelola menjadi lebih baik. Lebih bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Sebaik-baik manusia dalam keimanannya adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi kemanusiaan.

Sebaliknya, sejahat-jahatnya manusia adalah yang senantiasa menjadi sumber kesulitan hidup bagi sesamanya. Hidup tanpa iman adalah kesia-siaan yang hampa tanpa makna. Wallahu A’lam Bishawwab.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar