Industri Tekstil Mulai Bertumbangan, API: Ini Lebih Parah Dibanding Krismon 1998

Senin, 27 April 2020 10:31

Ilustrasi Industri

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Di tengah kondisi berat saat ini sepertinya tak ada harapan lagi untuk industri tekstil bisa bertahan. Pasalnya, imbas pandemi Covid-19 telah memukul produksi, apalagi ditambah dengan adanya larangan mudik tahun ini oleh pemerintah. Ya, industri tekstil tak ada lagi pemasukan dari momen Lebaran Idul Fitri, dan setelahnya akan banyak yang gulung tikar.

Keresahan itu disampaikan oleh pengusaha teksil yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). “Lebaran tahun ini tak ada harapan bagi kami. Pasar sudah sudah sepi dari jauh-jauh hari karena wabah Covid-19,” ujar Sekretaris Eksekutif API, Rizal Rakhman, kemarin (26/4/2020).

Terpuruknya industri tekstil pada 2020 merupakan yang terparah dibandingkan dengan krisis moneter (krismon) pada tahun 1998 silam. Saat ini produksi tekstil turun drastis hingga 70 persen. Akibatnya, pelaku industri menanggung bebsar yang besar setiap bulannya.

“Tahun ini titik nadir, lebih parah dari tahun 1998. Mungkin kami akan habis (tutu) usai Lebaran. Yang bertahan paling hanya sedikit sekali,” katanya.

Kondisi demikian, lanjut dia, industri tekstil telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan merumahkan pekerja kepada 1,98 juta pegawai. Jumlah tersebut mencapai 70 persen dari total tenaga kerja di industri TPT yang jumlahnya sekitar 2,7 juta orang.

“Tak ada lagi pemasukan lagi karena enggak bisa jual barang. Sementara kewajiban tetap berjalan seperti bayar listrik, tenaga kerja, BPJS, dan bunga bank. Kondisi ini sangat berat,” tuturnya.

Komentar


VIDEO TERKINI