Biasanya Antre, Tak Tahu ke Mana

Penulis saat menerima sumbangan APD di redaksi Fajar.

Oleh: Arsyad Hakim

Pandemi covid-19 telah mengubah segalanya. Baik itu kebiasaan-kebiasaan kecil dan besar dalam segala sendi kehidupan. Termasuk di sektor kesehatan. Rumah sakit salah satunya.

Di benak saya saat itu, mengira pasien berbagai jenis penyakit menjejali klinik atau rumah sakit sejak corona mewabah. Minimal, warga semakin sadar untuk memeriksakan kesehatan di rumah sakit. Agar terhindar dari corona.

Kenyataannya, justru sebaliknya. Pasien di beberapa rumah sakit menurun drastis. Baik di rumah sakit rujukan corona, maupun yang bukan.

Awalnya saya terpaksa memeriksakan kesehatan karena susah tidur. Di Klinik Inggit Medika, menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan, Mandiri Inhealth . Sesuai hasil diagnosa dokter yang di klinik itu, saya mengalami hipertensi urgensi. Hipertensi urgensi adalah krisis, di mana tekanan darah mencapai 180/120 mmHg atau lebih tinggi. Tetapi tidak ada gejala kerusakan pada organ tubuh.

Oleh dokter, saya diberikan tiga jenis obat. Dua paten, satu racikan. Tujuannya untuk menurunkan hipertensi. Dikonsumsi selama tiga hari. Setelah itu, kontrol lagi.

Saat kontrol, memang ada perubahan. Tekanan darah sedikit turun. Namun, masih dalam kategori hipertensi urgensi. Artinya tekanan darah saya masih di atas 180/120 mmHg. Karena itu, dokter menyarankan dirujuk ke RS. Ada tiga RS rujukan, namun saya pilih RSU Cahaya Medica di Jl Perintis Kemerdekaan. Itu karena lokasi RS setiap hari saya lewati kalau berangkat kerja.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar