Biasanya Antre, Tak Tahu ke Mana

Rabu, 29 April 2020 14:20

Penulis saat menerima sumbangan APD di redaksi Fajar.

Benar, hanya beberapa saat, suara tangis bayi pecah. Untung ibu itu sampai rumah sakit. Kalau telat, bisa saja melahirkan di perjalanan.

Hampir pukul 09.00, RS masih sepi. Saya pun menanyakan lagi, jadwal dokter dan pasien penyakit dalam. Saat itulah, petugas di bagian registrasi menyampaikan hal berbeda. Sambil bercanda dengan beberapa temannya sesama petugas medis, ia menyampaikan kondisi yang tidak biasa.

“Biasanya jam segini, pasien penyakit dalam sudah antre. Biasa sampai 40 pasien. Tidak tahu ke mana pasien? Mungkin karena corona?,” ujarnya setengah bercanda. Apalagi saat itu, Kota Makassar sudah memasuki hari keempat penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Saat dokter Saldy sudah tiba, tak lama saya mendapat giliran. Empat pasien di depan saya, pemeriksaannya cepat. Maklum, mereka hanya pemeriksaan lanjutan. Saya di urutan kelima, dipanggil.

Sebagai pasien baru, saya diminta menjelaskan kondisi kesehatan. Setelah dokter membaca rujukan saya dari Klinik Inggit Medica dan hasil tensi di RS Cahaya Medica. Karena kurang pasien hari itu, saya dapat kesempatan berkonsultasi agak lama. Apalagi dokternya komunikatif dan masih muda.

Saya pun menanyakan banyak hal, termasuk makanan dan minuman yang harus dihindari. Sang dokter menerangkan dengan santai. Sesekali bercanda. Termasuk larangan makan ikan asin, telur asin dan daging berlebihan. Yang disarankan, perbanyak sayur-sayuran dan makan buah. Pola istirahat harus dijaga dengan teratur.

Komentar