Biasanya Antre, Tak Tahu ke Mana

Rabu, 29 April 2020 14:20

Penulis saat menerima sumbangan APD di redaksi Fajar.

Oleh: Arsyad Hakim

Pandemi covid-19 telah mengubah segalanya. Baik itu kebiasaan-kebiasaan kecil dan besar dalam segala sendi kehidupan. Termasuk di sektor kesehatan. Rumah sakit salah satunya.

Di benak saya saat itu, mengira pasien berbagai jenis penyakit menjejali klinik atau rumah sakit sejak corona mewabah. Minimal, warga semakin sadar untuk memeriksakan kesehatan di rumah sakit. Agar terhindar dari corona.

Kenyataannya, justru sebaliknya. Pasien di beberapa rumah sakit menurun drastis. Baik di rumah sakit rujukan corona, maupun yang bukan.

Awalnya saya terpaksa memeriksakan kesehatan karena susah tidur. Di Klinik Inggit Medika, menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan, Mandiri Inhealth . Sesuai hasil diagnosa dokter yang di klinik itu, saya mengalami hipertensi urgensi. Hipertensi urgensi adalah krisis, di mana tekanan darah mencapai 180/120 mmHg atau lebih tinggi. Tetapi tidak ada gejala kerusakan pada organ tubuh.

Oleh dokter, saya diberikan tiga jenis obat. Dua paten, satu racikan. Tujuannya untuk menurunkan hipertensi. Dikonsumsi selama tiga hari. Setelah itu, kontrol lagi.

Saat kontrol, memang ada perubahan. Tekanan darah sedikit turun. Namun, masih dalam kategori hipertensi urgensi. Artinya tekanan darah saya masih di atas 180/120 mmHg. Karena itu, dokter menyarankan dirujuk ke RS. Ada tiga RS rujukan, namun saya pilih RSU Cahaya Medica di Jl Perintis Kemerdekaan. Itu karena lokasi RS setiap hari saya lewati kalau berangkat kerja.

Saya pun ke RS Cahaya Medica pada Sabtu, 25 April 2020. Ternyata hari itu, dokter penyakit dalam libur. Jadwal dokternya, Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat. Oleh petugas registrasi, saya diminta datang pada Senin, 27 April. pagi-pagi, sebelum pukul 08.00 Wita. Sebab, pasien biasanya banyak. Harus cepat-cepat mendaftar biar tidak lama antre.

Senin, saya pun bergegas. Sebelum pukul 08.00 Wita, saya sudah di RS. Takut, kalau telat, bisa terlambat dilayani. Rupanya, saya mendaftar sebagai pasien nomor 5. Sudah ada empat pasien lebih dahulu mendaftar. Di belakang saya, nomor 6, ada pasien baru. Ia menderita asam lambung. Pasien itu mengaku sempat drop, panik, dan ingat corona. Maklum, sempat mengalami sesak napas. Seperti gejala corona. Ternyata, asam lambungnya kambuh. Mungkin karena pengaruh awal-awal puasa Ramadan.

Sambil menunggu dokter Saldy, spesial penyakit dalam yang akan menangani, saya pun bincang-bincang dengan petugas medis di meja registrasi. Itu setelah mengukur tekanan darah. Dokter masuk pukul 09.00 Wita.

Hari itu, RS tampak sepi. Memang ada beberapa pasien rawat inap. Ada juga seorang ibu diantar suaminya, hendak melahirkan. Sudah pecah ketuban. Ibu itu sudah memegang pinggul. Saya menegur petugas yang masih menanyakan kelengkapan identitas dll. “Dek, ibu itu sudah mau melahirkan, nanti data-datanya diambil,” tegur saya.

Benar, hanya beberapa saat, suara tangis bayi pecah. Untung ibu itu sampai rumah sakit. Kalau telat, bisa saja melahirkan di perjalanan.

Hampir pukul 09.00, RS masih sepi. Saya pun menanyakan lagi, jadwal dokter dan pasien penyakit dalam. Saat itulah, petugas di bagian registrasi menyampaikan hal berbeda. Sambil bercanda dengan beberapa temannya sesama petugas medis, ia menyampaikan kondisi yang tidak biasa.

“Biasanya jam segini, pasien penyakit dalam sudah antre. Biasa sampai 40 pasien. Tidak tahu ke mana pasien? Mungkin karena corona?,” ujarnya setengah bercanda. Apalagi saat itu, Kota Makassar sudah memasuki hari keempat penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Saat dokter Saldy sudah tiba, tak lama saya mendapat giliran. Empat pasien di depan saya, pemeriksaannya cepat. Maklum, mereka hanya pemeriksaan lanjutan. Saya di urutan kelima, dipanggil.

Sebagai pasien baru, saya diminta menjelaskan kondisi kesehatan. Setelah dokter membaca rujukan saya dari Klinik Inggit Medica dan hasil tensi di RS Cahaya Medica. Karena kurang pasien hari itu, saya dapat kesempatan berkonsultasi agak lama. Apalagi dokternya komunikatif dan masih muda.

Saya pun menanyakan banyak hal, termasuk makanan dan minuman yang harus dihindari. Sang dokter menerangkan dengan santai. Sesekali bercanda. Termasuk larangan makan ikan asin, telur asin dan daging berlebihan. Yang disarankan, perbanyak sayur-sayuran dan makan buah. Pola istirahat harus dijaga dengan teratur.

Setelah pemeriksaan tubuh, dilanjutkan dengan pengambilan sampel darah. Kebetulan hari itu, saya puasa Ramadan. Jadi, bisa langsung pengambilan sampel darah. Hanya menunggu satu jam setelah pemeriksaan.

Dokter Saldy juga menjelaskan, hanya memberikan dua jenis obat. Katanya, tak perlu ragu karena obat yang diberikan untuk konsumsi selama dua minggu rutin setiap hari, masing-masing 1 x 1, gunanya untuk menurunkan tensi. Tak ada efek ke organ tubuh seperti ginjal, hati, dan jantung. Malah menguatkan. Efeknya cuma mengantuk kalau habis dikonsumsi. Makanya, dikonsumsi usai buka puasa dan setelah sahur.

Dua pekan kemudian, tepatnya pada 11 Mei, saya diminta kontrol lagi. Sekalian mengambil hasil sampel darah yang diuji di laboratorium RS.

Hari itu, saya baru sadar. Ternyata pandemi covid-19 yang melanda sekitar 200 negara di dunia, efeknya luar biasa. Orang yang sakit, kalau tidak parah atau terpaksa, untuk sementara menghindari rumah sakit. Apalagi gejala covid-19 terlalu umum. Misalnya suhu tubuh di atas 38 derajat, batuk-batuk, agak sesak napas, hilangnya rasa pencernaan. Tak jauh beda dengan gejala umum orang yang mengalami flu.

Belum lagi, ada yang trauma pada saat melihat perawat maupun dokter yang mengenakan APD. Padahal itu standar yang diterapkan WHO sejak pandemi covid-19. Sebab, tak sedikit paramedis tertular covid-19 dari pasien yang tidak diketahui positif corona.

Ya, semoga pandemi ini cepat berlalu. Semoga kehidupan kembali normal. Agar semua sendi-sendi kehidupan kembali berjalan baik. Agar dokter tidak takut tertular pasien, agar pasien tidak trauma dengan dokter yang mengenakan APD. Agar saling curiga antara pasien dan dokter tak lagi terjadi. Aamiin. (*)

Komentar