Kisah Legislator Makassar, Jadi Relawan Pemandi Jenazah Corona Meski Risiko Ada di Pelupuk Mata

Rabu, 29 April 2020 12:05

Hadi Ibrahim Baso

Ustad Hadi saat bertugas memandikan jenazah

Awal mula dirinya dihubungi pihak RSUD Daya diminta untuk memandikan jenazah. Pekerjaan ini sepi peminatnya, bahkan bisa dihitung jari. Perlu keahlian khusus mengurusi jenazah Covid-19 sesuai rambu-rambu yang telah ditetapkan MUI dan protokol kesehatan WHO.

Belum lagi resiko terpapar virus, tak ada bedanya dengan petugas medis yakni dokter, perawat dan yang lainnya.

“Karena tidak ada lagi orang yang mau mengurus jenazah Covid, kalau jenazah umum banyak. Untuk mengurus jenazah Covid ini memang butuh keilmuan, sebab kami tidak mandikan dengan air, tapi kami tayammum kan sesuai edaran majelis ulama dan medis. Tim yang saya gunakan juga tim ahli, para ustadz dan ustadzah, para Hafiz dan Hafizah,” jelas Ustad Hadi.

Tak terpikir di benaknya akan menadapat imbalan apapun dari pihak berwenang. Tim yang dipimpinnya hanya untuk kemanusiaan, membantu sesama makhluk. Hadi mengakui selama dirinya mengurusi jenazah dimana pun, kali ini yang tersulit yakni mengurusi jenazah Corona.

“Karena ini panggilan kemanusiaan, saya bismillah saja memperbaiki niat dan turun langsung membantu. Jadi 24 jam kami siap selalu, karena ini jenazah Covid tidak bisa lama, begitu dia meninggal tidak bisa sampai satu jam harus cepat prosesnya,” terangnya lagi.

Namun melihat kenyataan di lapangan, Ustadz Hadi sedikit menyayangkan minimnya perhatian pemerintah kepada para pemandi dan pengurus jenazah Covid-19. Dengan anggaran penanganan yang begitu besar bahkan fantastis disayangkan tidak sampai menyentuh para pemandi jenazah.

Komentar