Kisah Legislator Makassar, Jadi Relawan Pemandi Jenazah Corona Meski Risiko Ada di Pelupuk Mata

Rabu, 29 April 2020 12:05

Hadi Ibrahim Baso

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR– Ini kisah relawan pemandi dan pengurus jenazah Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Daya Makassar. Salah satu ketua tim relawannya bernama Ustad Hadi Ibrahim Baso.

Dihubungi Fajar.co.id di sela-sela jam istrihatnya, Selasa (28/4/2020), Ustad Hadi tak menceritakan seluruh kisahnya. Ada hal-hal yang tidak boleh ia ungkap ke publik terutama menyangkut privasi jenazah yang diurusnya. Dia hanya menceritakan bagian-bagian pentingnya.

Sebagai Koordinator Tim Penyelenggara Jenazah Covid-19, menjadi pemandi dan mengurusi jenazah Covid-19 adalah sebuah keberkahan, tulus karena kemanusiaan dan jauh dari kepentingan apa pun. Ustad Hadi sangat menikmatinya meski resiko dirinya terpapar virus mematikan sangat besar dan berada di pelupuk mata.

Ustad Hadi merupakan Ketua Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) kota Makassar. Bukan hanya sebagai pemuka agama, ia juga Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Makassar.

Jabatannya sebagai anggota parlemen yang dihormati tak membuat Hadi Ibrahim jemawa. Ia menanggalkan atribut kedewanannya demi menjadi penolong bagi sesama.

Bukan kali ini saja ia terlibat mengurusi jenazah. Sebelumnya saat kota Palu diguncang gempa dan tsunami, ribuan korban bergelimpangan, juga di NTB dan dimana saja Ustad Hadi akan hadir terlibat dalam aksi kemanusiaan mengurusi jenazah.

“Saya terlibat langsung memandikan jenazah Covid, karena memang awal mulanya kami juga terlibat di aksi kemanusiaan di Palu, di NTB dan dimana saja ketika ada bencana kami turun dan memang kita biasa mengurus jenazah, diselenggarakan sesuai syariat dan agama,” beber Ustdz Hadi.

Ustad Hadi saat bertugas memandikan jenazah

Awal mula dirinya dihubungi pihak RSUD Daya diminta untuk memandikan jenazah. Pekerjaan ini sepi peminatnya, bahkan bisa dihitung jari. Perlu keahlian khusus mengurusi jenazah Covid-19 sesuai rambu-rambu yang telah ditetapkan MUI dan protokol kesehatan WHO.

Belum lagi resiko terpapar virus, tak ada bedanya dengan petugas medis yakni dokter, perawat dan yang lainnya.

“Karena tidak ada lagi orang yang mau mengurus jenazah Covid, kalau jenazah umum banyak. Untuk mengurus jenazah Covid ini memang butuh keilmuan, sebab kami tidak mandikan dengan air, tapi kami tayammum kan sesuai edaran majelis ulama dan medis. Tim yang saya gunakan juga tim ahli, para ustadz dan ustadzah, para Hafiz dan Hafizah,” jelas Ustad Hadi.

Tak terpikir di benaknya akan menadapat imbalan apapun dari pihak berwenang. Tim yang dipimpinnya hanya untuk kemanusiaan, membantu sesama makhluk. Hadi mengakui selama dirinya mengurusi jenazah dimana pun, kali ini yang tersulit yakni mengurusi jenazah Corona.

“Karena ini panggilan kemanusiaan, saya bismillah saja memperbaiki niat dan turun langsung membantu. Jadi 24 jam kami siap selalu, karena ini jenazah Covid tidak bisa lama, begitu dia meninggal tidak bisa sampai satu jam harus cepat prosesnya,” terangnya lagi.

Namun melihat kenyataan di lapangan, Ustadz Hadi sedikit menyayangkan minimnya perhatian pemerintah kepada para pemandi dan pengurus jenazah Covid-19. Dengan anggaran penanganan yang begitu besar bahkan fantastis disayangkan tidak sampai menyentuh para pemandi jenazah.

Ustadz Hadi dan tim berusaha lapang dada meski maut hanya sejengkal darinya. Mumpung di bulan suci Ramadhan, kata Hadi, segala kebaikan yang dilakukan akan dilipatgandakan nilai pahalanya di mata Allah sang pemilik kehidupan.

“Saya meminta pihak pemerintah mengalokasikan dana untuk para ustadz dan ustadzah selaku pemandi jenazah Covid, dan mereka tidak pernah meminta tapi negara harus hadir,” lugasnya.

“Bagi saya sih dikasih atau tidak dikasih, sudah cukuplah kehidupan. Tetapi anggota saya ini, satu kehilangan anggota bagi saya itu sangat riskan sekali ummat ini, mereka para penghapal Qur’an dan para da’i yang setia standby 24 jam dalam menangani jenazah covid,” pungkasnya. (endra/fajar)

Komentar