Komunikasi Empatik Jenderal Andika

Rabu, 29 April 2020 13:47

Dr Hasrullah-- fajar

Oleh: Hasrullah

FAJAR.CO.ID– Dialog Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa dengan tenaga medis RSPAD via video conference mengharukan. Video yang menjadi viral di media sosial telah menggugah perhatian dan perasaan audience. Termasuk, saya sebagai penulis kolom ini, terharu ketika tangis para tenaga medis pecah saat pekerja medis itu bisa berdialog dengan keluarga, anak, dan suami di rumah. Semisal, Ibu Rahma seorang perawat di RSPAD, tidak dapat bertemu dengan ke empat buah hatinya selama dua bulan karena harus menjalankan tugas kemanusiaan yang mulia dan menjadi garda terdepan menghadapi virus yang mematikan itu.

Apa yang didramaturgikan Pak Jenderal Andika dalam perspektif komunikasi menunjukkan bahwa sosok pemimpin sangat tahu dan paham membangun komunikasi empatik terhadap “anak buahnya” berada di medan perjuangan. Sosok para medis yang terdiri dari dokter dan perawat, bagaikan prajurit tangguh yang mempunyai prinsip “lebih baik pulang nama daripada gagal dalam pertempuran”. Tekad dan komitmen andika sebagai prajurit kopassus, membesarkan pikiran, hati, dan perasaan untuk kemanusiaan.

Walaupun Jenderal Andika tidak mempunyai latar belakang tentang komunikasi, tapi dalam implementasi dan menjalankan kepemimpinan sangat paham komunikasi empatik. Beliau sangat mendalami bahwa proses komunikasi yang dilakukan seseorang untuk mengetahui, apa dialami, dipikirkan, dan dirasakan dari sudut pandang lawan bicara. Memahami perasaan dan pikiran lawan bicara, dan berupaya membayangkan kita berada pada posisi mereka yang diajak berbicara. Itulah komunikasi empatik diperagakan Jenderal Andika.

Maka pelajaran yang dapat diambil dialog tersebut, antara lain: Pertama, sebagai permimpin seperti Jenderal Andika perlu membangun komunikasi empatik terhadap siapa saja. Contoh, dalam video conference menjadi bukti bahwa sentuhan empatik menjadi role model yang sangat baik untuk membangun semangat bagi seseorang yang bertugas di medan perjuangan. Tidak terkecuali petugas medis yang sudah meluangkan waktunya untuk masyarakat yang mengalami musibah virus korona.

Kedua, dalam situasi krisis seperti ini, perhatian pemimpin menghadirkan sosoknya sebagai seorang motivator dan penyemangat. Pekerjaan medis yang tidak kenal lelah membutuhkan komunikasi dengan keluarganya. Di sinilah kepintaran seorang pemimpin, dengan kemajuan teknologi informasi dengan hadir kecerdasan virtual sehingga komunikasi sambung rasa dapat tercipta melalui video conference. Ketiga, apa yang dilakukan Jenderal Andika dapat menjadi inspirasi para pemimpin dalam situasi krisis. Kepenatan dan rasa lelah yang dihadapi pekerja medis dan bahkan diintai oleh virus berbahaya, terobati dengan komunikasi empatik.

Terakhir, bahwa komunikasi dialogis dan melibatkan komunikasi yang intens bagaikan oasis di tengah padang pasir. Dahsyatnya komunikasi empatik Prajurit Komando sekaliber Jenderal Andika, menetaskan air mata dan terharu melihat dialog yang berlangsung humanis. Betapa empati meletakkan diri kita di tempat orang lain. Artinya, pemimpin merasakan apa yang juga dirasakan bawahannya. Kalimat terakhir inilah, mengingatkan penulis dialog antara Gubernur Sulawesi Selatan Pak Amiruddin waktu itu, “menunjuk Radi A. Gany menjadi Bupati Wajo. Petikan sebagai berikut: “Bagaimana saya bisa dipercaya menjadi Bupati, tapi saya tidak mempunyai pengalaman menjadi Pamong, ujar pak Radi ke Pak Amir. Sebalik Pak Amir yang juga Guru Besar Atom membalasnya. Yang pertama, Radi lakukan, bangunlah perasaan rakyat dan aparatmu, dan terimalah amanah ini”. Gambaran dialog ini juga menunjukkan betapa komunikasi empati perlu dibangun di manapun dengan siapa pun. Betapa urgent nya komunikasi empatik itu menjadi kunci kesuksesaan seorang pemimpin. (*)

Bagikan:
1
1
5

Komentar