Pakar Data Curiga Jumlah Meninggal Lebih Tinggi, Ini Alasan Ismail Fahmi

Rabu, 29 April 2020 11:19

ILUSTRASI: Kerabat berada di dekat makam pasien virus corona atau Covid-19 yang meninggal usai dimakamkan di TPU Pondok ...

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Data Covid-19 yang dipaparkan pemerintah ibarat pucuk gunung es. Yang tidak terungkap diyakini jauh lebih tinggi.

Seperti sudah menjadi kewajiban, setiap sore Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto mengumumkan kasus pasien Covid-19 secara daring. Hingga kemarin (28/4), jumlah kasus yang terkonfirmasi positif menjadi 9.511 kasus. Sementara yang sembuh bertambah 103 orang menjadi 1.254 orang.

Pemerintah juga mencatat, kemarin ada tambahan pasien meninggal sebanyak 8 orang sehingga total menjadi 773 orang meninggal. Angka tambahan kematian tersebut berangsur menurun apabila dibandingkan dengan data hari sebelumnya.

Data pasien meninggal itulah yang kini mendapat banyak sorotan. Tak hanya di Indonesia. Berbagai negara lain juga menerima tudingan menutupi fakta karena diyakini jumlah kematian jauh lebih tinggi.

Di Indonesia, pemerintah hanya menampilkan data pasien meninggal yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19. Menurut pakar data Ismail Fahmi, hal itu membuat data yang ditampilkan menjadi lemah. “Harus dipahami bahwa jumlah testing PCR kita sangat rendah dibandingkan negara-negara lain. Banyak yang belum dites dan sebetulnya meninggal karena Covid,” terangnya kemarin (28/4).

’’Ini artinya, jumlah laporan tidak menggambarkan kondisi di lapangan,’’ lanjut pengembang aplikasi analisis data Drone Emprit itu.

Karena itu, pemerintah semestinya menampilkan data tambahan. Yakni, data pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal. ’’Pemerintah sajikan dua data. Pertama adalah data meninggal positif. Kedua adalah data gabungan antara yang meninggal positif dan meninggal PDP,’’ tutur Ismail.

Komentar


VIDEO TERKINI