Takut Berkebun, Warga Poso Desak Satgas Tinombala Segera Tumpas MIT

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID, POSO -- Warga masyarakat Dusun Sipatuo dan Dusun Sipatokong Desa Kilo Kecamatan Poso Pesisir Utara (PPU) Kabupaten Poso, meminta pemerintah, TNI dan Polri untuk segera menuntaskan operasi Tinombala yang sudah berjalan cukup lama tetapi sejumlah orang yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) dugaan kasus terorisme Mujahidin Indonesia Timur (MIT) belum teratasi.

Permintaan disampaikan warga kepada Bupati Darmin Sigilipu saat menyerahkan bantuan sosial (bansos) bagi warga masyarakat PPU terdampak MIT, Selasa (28/4).

“Kami meminta pemerintah dan aparat keamanan segera menuntaskan masalah di atas sana (MIT di pegunungan). Warga disini (Sipatuo dan Sipatokong) sangat takut dan trauma untuk naik (gunung) berkebun,” kata Muhtiali, tokoh masyarakat dusun Sipatuo.

Warga takut ke kebun karena trauma pasca tewasnya secara sadis dua warga di desanya, Daeng Tappo dan Ajeng alias Papa Angga. “Tambah takut dan trauma karena kami dengar-dengar masih ada warga yang ditarget dibunuh karena dianggap sebagai Banpol atau bantuan polisi,” tambahnya.

Diceritakannya, sebelum terjadi kasus pembunuhan terhadap Daeng Toppo di perkebunan gunung Padopi, sebagian besar warga dusun Sipatuo dan Sipatokong sudah banyak yang tinggal mengungsi di kebun untuk menghindari diri dari penyebaran virus corona. Tapi pasca tewasnya daeng Toppo warga berbalik arah kembali ke kampung untuk menyelamatkan diri.

Suara agar aparat segera menuntaskan operasi Tinombala dan menangkap para pelaku kekerasan keluar juga dari warga lain. Seperti dari Husni Tamrin. Tokoh masyarakat ini mengatakan warga sudah jenuh karena gelar operasi sudah berlangsung lama tapi kasus kekerasan terhadap warga yang masih terus terjadi. “Atas nama keluarga kami juga minta agar aparat keamanan segera menemukan kepala almarhum darng Roppo yang sampai sekarang belum ditemukan,” ungkapnya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan