Kenal Rustam Effendi saat Tentara Serang Jeneponto

Jumat, 1 Mei 2020 20:22

Almarhum Letkol Inf Rustam Effendi.

Oleh: Arsyad Hakim

Medio 2005, saya mulai berkenalan Drs Rustam Effendi. Saat itu, Rustam masih berpangkat Mayor. Ia perwira Kodam VII/Wirabuana, menjabat Kepala Penerangan Kodam.

Berbeda dengan tentara pada umumnya, Rustam Effendi jauh dari perawakan sangar. Tegap, namun tidak terlalu kekar. Jika ketemu atau bicara via telepon, senyum dan canda duluan telontar.

Dia humble dan tak pernah kelihatan susahnya. Padahal, tugas kesehariannya lebih banyak berurusan dengan wartawan. Terutama wartawan kriminal, hukum, dan pertahanan keamanan.

Suatu ketika, November 2005, setelah peristiwa penyerangan TNI dari Yonif/700 di Desa Bandri Manurung, Jeneponto, saya ditelepon Pak Rustam. Ia meminta saya ke Kodam, ditunggu Panglima, Mayjend Arief Budi Sampurno.

Awalnya saya ragu. Namun, Pak Rustam meyakinkan dengan gaya canda di telepon, kalau Panglima hanya ingin menyampaikan peristiwa sebenarnya di Desa Bandri Manurung kepada awak media.

Sebab, hari itu, sudah ramai diberitakan media lokal dan nasional tentang penyerangan tentara di Jeneponto. Termasuk Harian FAJAR yang menurunkan peristiwa itu di halaman satu. Saya yang menulisnya.

Antara ragu dan cemas, saya berangkat ke Kodam. Ke ruang kerja Kapendam. Lalu diantar ke Panglima oleh Pak Rustam Effendi. Ternyata, di ruang tunggu Panglima sudah banyak wartawan.

Saat wartawan dipersilakan masuk, panglima muncul. Setelah duduk dengan pakaian militer lengkap, Panglima mulai memberikan keterangan. Dengan nada tegas dan sedikit tinggi. Ia menyinggung beberapa pemberitaan yang dianggap menyudutkan Kodam VII/Wirabuana.

Komentar