Terima Banyak Keluhan, IDI Makassar Minta Pemprov Perhatikan Paramedis di Swiss Bell

Sabtu, 2 Mei 2020 20:17

ILUSTRASI

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Makassar menyayangkan rendahnya upaya perlindungan terhadap para pekerja medis yang melayani pasien di Hotel Swiss Bell tempat karantina pasien covid-19.

Pihak IDI Makassar mengaku banyak menerima keluhan dari dokter terkait tidak adanya sabun cair, ruang ganti khusus Alat Pelindung Diri (APD), dan penempatan pasien positif swab yang diisolasi di lantai 5.

“Dokter tidak disiapkan ruangan khusus untuk mengganti baju rumah ke baju APD. Jadi hanya disiapkan satu ruangan yang dipakai pakaian sebelum dan sesudah menangani pasien covid-19,” ujar Humas IDI Makassar, dr Wahyudi Muchsin, Sabtu (2/5/2020).

Wahyudi menuturkan, seharusnya pergantian baju rumah dan pergantian baju APD setelah menangani pasien tidak boleh di ruangan yang sama.

“Harus disiapkan ruang sterilisasi sendiri yang sudah follow up pasien positif untuk membuka baju APD supaya aman,” ucapnya.

Selain itu, kata dia, sistem AC di hotel menggunakan AC Central, bukan AC split. Jadi udara hanya berputar putar saja. Misalnya ruang isolasi positif di lantai 5, AC Central pasti ke lantai satu, lantai dua, dan selanjutnya. “Jadi rawan sekali,” bebernya.

Dia menyebut, harusnya Pemerintah Provinsi bisa memaksimalkan rumah sakit yang ada di Kota Makassar.

“Maksimalkan saja itu rumah sakit rujukan covid-19 di Makassar seperti Rumah Sakit Sayang Bunda, RS Sayang Rakyat, Labuang Baji, RSUD Daya dan rumah sakit lainnya yang jelas lengkap peralatan penanganan covid-19,” katanya.

Komentar