Penumpang KRL Covid-19, Kang Emil: Kalau KRL Tidak Bisa Diberhentikan, Tolong…

Selasa, 5 Mei 2020 14:22

Tes swab penumpang KRL Commuter Line di Stasiun Bogor pada Senin (27/4). (Sofyansyah/RadarBogor)

FAJAR.CO.ID, BOGOR– Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah melaporkan hasil tes swab Covid-19 penumpang kereta rel listrik (KRL) ke Kementerian Perhubungan. Tes yang dilakukan bekerja sama dengan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) kepada 397 penumpang KRL di Stasiun Bogor, pada Senin (27/4) menunjukkan tiga penumpang dinyatakan positif Covid-19

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan pihaknya sudah menyampaikan informasi ada yang positif ke Kementerian Perhubungan. Sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19, dia mengusulkan kepada pengelola KRL untuk menerapkan physical distancing dan protokol kesehatan dengan ketat.

”Sekarang mungkin sedang dirapatkan. Kalau KRL tidak bisa diberhentikan, tolong pastikan dengan pengawasan ketat physical distancing-nya. Kuncinya bukan KRL-nya, tapi kepadatannya. Karena waktu itu KRL ini diputuskan tidak dihentikan operasionalnya, minimal kepadatannya diatur,” kata Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil seperti dilansir dari Antara pada Selasa (5/5).

Sebelumnya, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar Berli Hamdani mengatakan, pihaknya sudah menindaklanjuti hasil tes swab tersebut dengan merujuk satu orang positif Covid-19 ke rumah sakit rujukan dan dua lainnya untuk isolasi diri.

”Ada yang dirujuk ke RS Persahabatan karena kebetulan udah usia lanjut dan penyakit lain dan yang lainnya itu kita minta untuk isolasi mandiri,” kata Berli.

Menurut Berli, pihaknya sudah memberi rekomendasi kepada pengelola KRL, jika tidak bisa berhenti beroperasi sementara waktu, penumpang dibatasi setengah atau sepertiga dari kapasitas, tergantung posisi penumpang. Hal itu supaya jaraknya aman untuk mencegah penularan antar penumpang.

Berli menyatakan, tes swab kepada penumpang KRL merupakan salah satu kegiatan Pemprov Jabar yang bersifat proaktif dalam melakukan screening. Tujuannya, untuk menemukan peta persebaran Covid-19 dan menanganinya sedini mungkin.

”Ini adalah salah satu strategi kita dalam menghadapi Covid-19 di Jabar, supaya kita bisa menemukan kasus tersebut lebih dini dan juga kita bisa mengatasinya justru pada level yang belum membahayakan masyarakat,” tutur Berli. (jpc/fajar)

Bagikan berita ini:
5
6
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar