Rencana Buat Kurikulum Darurat COVID-19, Pengamat: 1.000 Kali Ganti, Kalau Guru Enggak Mampu

Selasa, 5 Mei 2020 18:58

Ilustrasi guru. Foto: JawaPos

FAJAR.CO.ID,JAKARTA– Pengamat dan praktisi pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji menilai, rencana membuat kurikulum darurat COVID-19 hanya buang-buang anggaran.

Apalagi di tengah krisis ekonomi seperti sekarang, tidak layak bila segelintir orang ngotot membuat kurikulum baru meski status darurat

“Lagi krisis begini kok mau bikin kurikulum baru. Enggak usah ‘ngeproyeklah’. Kita belum butuh kurikulum darurat COVID-19,” kata Indra kepada JPNN.com, Selasa (5/5).

Dia mengungkapkan, untuk membuat kurikulum baru harus butuh dana triliiun rupiah. Itupun waktunya panjang.

“Biasanya untuk penyusunan kurikulum reguler makan duit triliunan rupiah. Apalagi kalau mau express supercepat. Kilat kan lebih mahal daripada reguler,” ucapnya.

Indra menegaskan, masalah yang terjadi sekarang dalam pembelajaran jarak jauh, ada di guru. Bukan kurikulumnya.

Sebagus apa pun kurikulumnya, kalau kualitas gurunya rendah, tidak akan jalan.

“Alasan buat kurikulum darurat COVID-19 agar siswa tidak stres, itu enggak masuk akal. Sebab, problemnya bukan di kurikulumnya, tetapi di gurunya. Kalau masih ada yang ngotot buat kurikulum baru, itu patut dipertanyakan tujuan sebenarnya. Bisa juga mereka tidak benar-benar memahami problemanya,” tuturnya.

Dia menambahkan, bila kurikulumnya diganti tetapi gurunya tidak dibekali apa-apa, kira-kira apa hasilnya. Pasti sama saja kacau.

Itu sebabnya, kata Indra, daripada menghabiskan uang negara untuk susun kurikulum darurat, lebih baik dibuatkan panduan untuk guru-guru dan orang tua. Ini yang sampai sekarang belum dilakukan pemerintah sama sekali.

Bagikan berita ini:
8
2
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar