Sultan Hamengku Buwono X: Insyaallah Kita Mampu Memenangkan Pertempuran

Selasa, 5 Mei 2020 15:16

Sri Sultan Hamengku Buwono X (kanan) (Raka Denny/Jawa Pos)

FAJAR.CO.ID, YOGYAKARTA– Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, menyampaikan terima kasih kepada seluruh warganya yang tidak mudik demi memutus mata rantai persebaran Covid-19.

Gubernur juga menyampaikan terima kasih kepada elemen masyarakat yang bekerja di luar rumah dengan penuh kerelaan membawa obat-obatan dan bahan kebutuhan pokok bagi orang-orang yang harus tinggal di rumah serta di pusat-pusat layanan kesehatan dan fasilitas publik.

”Bagi mereka yang tidak bisa mudik tilik sedulur (menjenguk sudara) dan orang tua. Jika ini dipatuhi, Insyaallah niscaya kita akan mampu memenangkan pertempuran ini,” kata Sultan seperti dilansir dari Antara dalam program #SultanMenyapa Jilid 4 dengan judul Berkreasi dan Beribadah dari Rumah di Jogjakarta pada Selasa (5/5).

Sultan HB X menyampaikan terima kasih kepada seluruh warganya yang hingga kini bersedia dengan sadar untuk tinggal di rumah sehingga bekerja, belajar, berkreasi, dan beribadah dari rumah masing-masing. Menurut dia, meski berdiam diri dan tinggal di rumah bukan sesuatu yang menyenangkan, warga harus sadar bahwa hal itu adalah pengorbanan diri untuk memutus mata rantai penularan virus korona.

Tak lupa Sultan menyampaikan terima kasih kepada prajurit TNI/Polri, Satpol PP, dan unsur lainnya yang amankan penularan wabah demi keselamatan warga. ”Ini bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk semuanya,” tutur Sultan HB X.

”Kepada umat Islam, saya ucapkan selamat menjalankan ibadah dengan khusuk, di rumah sebagai madrasah, tempat kita belajar hidup dan menimba kehidupan dengan lebih baik,” tambah Sultan HB X.

Kepala Bagian Humas Biro Umum Humas dan Protokol Setda Jogjakarta Ditya Nanaryo Aji menjelaskan bahwa #SultanMenyapa Jilid 4 dengan judul Berkreasi dan Beribadah dari Rumah mengusung pesan bahwa berdiam di rumah adalah sebuah kesempatan yang baik untuk membangun waktu berkualitas bersama keluarga.

Dengan cara itu, menurut dia, seorang ayah atau ibu akan belajar dan merasakan bagaimana menjadi guru. Demikian pula seorang anak akan lebih paham bagaimana ibunya mengelola rumah tangga.

”Demikian pula dengan ibadah, inilah saatnya bagi para ayah, kepala keluarga untuk menjadi imam yang sesungguhnya. Kadang kita lupa bahwa istri dan anak-anak adalah jamaah yang paling dekat, potensial, dan nyata,” ujar Ditya Nanaryo Aji. (jpc/fajar)

Bagikan berita ini:
10
10
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar