Khofifah Tegaskan PSBB Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik Bukan Kebijakan Politik

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa-- (ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

FAJAR.CO.ID, SURABAYA-- Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik hari ini sudah berjalan sebelas hari. Kemarin Tim Gugus Tugas Covid-19 Jatim melakukan evaluasi.

Hasilnya, pertambahan kasus korona di Sidoarjo dan Gresik mulai melandai. Sebaliknya, di Surabaya masih tinggi.

Ada beberapa indikator yang dievaluasi tim gugus tugas. Di antaranya, pertambahan jumlah kasus positif, PDP, maupun ODP. Ketua Tim Percepatan Penanganan Covid-19 Rumpun Kuratif dr Joni Wahyuhadi mengatakan, tiga hal itu bisa menunjukkan perjalanan PSBB di Jawa Timur. ’’Sidoarjo dan Gresik melandai, tapi Surabaya masih tinggi,’’ ucapnya.

Sebagaimana diketahui, PSBB di Surabaya Raya berlaku mulai 28 April sampai 11 Mei. Untuk Surabaya dan Sidoarjo, pembatasan berlaku di semua wilayah. Sedangkan untuk Gresik, PSBB hanya diterapkan di 8 kecamatan di antara total 14 kecamatan yang ada.

Joni menjelaskan, sejak PSBB diterapkan, tambahan kasus positif di Sidoarjo dan Gresik di bawah angka 20. Berbeda dengan Surabaya yang pernah mencapai angka 58 kasus. ’’Itu patut diwaspadai,’’ ucapnya. Total jumlah kasus positif di Surabaya juga paling tinggi. Hingga kemarin, ada 592 kasus positif. Sedangkan Sidoarjo hanya 152 dan Gresik 31.

Joni juga menyoroti tren kasus PDP di tiga daerah tersebut. Penambahan jumlah PDP di Surabaya kemarin mencapai 107. Sidoarjo 6 kasus dan Gresik 2 kasus. Tim gugus tugas lalu menyandingkan angka PDP dengan ODP pada masing-masing daerah. Idealnya, jumlah tambahan ODP harus lebih tinggi daripada PDP. Sebab, jumlah ODP menunjukkan bahwa tim tracing telah bekerja ekstra. Mereka mampu menjangkau semua orang yang memiliki potensi terjangkit virus. Penambahan ODP di tiga daerah itu, Surabaya 56 kasus, Sidoarjo 24 kasus, dan Gresik 3 kasus.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah umar


Comment

Loading...