3 ABK Dilarung ke Laut, Begini Penjelasan Dubes Tiongkok

Senin, 11 Mei 2020 15:01

Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Xiao Qian . (Istimewa)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sebelumnya mendesak Tiongkok menginvestigasi terkait kematian 4 ABK Warga Negara Indonesia (WNI) yang meninggal di kapal berbendera Tiongkok. Sebanyak 3 di antaranya dilarung di laut dan 1 lainnya meninggal di Busan, Korea Selatan. Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Xiao Qian menjawab hal itu.

Dubes Xiao Qian mengaku terus mengikuti perkembangan terkini terkait masalah itu. Pihaknya mengutamakan jalur diplomatik untuk menyelesaikan masalah ini.

“Kami sudah melihat ada berita-berita yang terkait, saat ini Tiongkok dan Indonesia menjaga komunikasi erat lewat jalur diplomatik mengenai masalah-masalah terkait, dan sedang mencari tahu dan verifikasi informasi yang terkait,” katanya kepada wartawan dalam keterangan tertulis, Senin (11/5).

Pihaknya berharap ada penyelesaian yang bijaksana dengan pihak terkait seperti dengan pihak agen perusahaan kapal. Dubes Xiao Qian menegaskan tak menutup kemungkinan untuk menyelesaikan masalah itu sesuai hukum dan peraturan berlaku.

“Kedutaan Besar Tiongkok berharap pihak-pihak yang terlibat dapat negosiasi untuk menyelesaikan perselisihan menurut hukum dan peraturan yang berlaku dan kontrak komersial terkait,” katanya.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri RI memanggil Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Xiao Qian untuk meminta penjelasan tentang perlakuan yang diterima para anak buah kapal (ABK) Indonesia yang bekerja di kapal ikan Tiongkok. Kemenlu juga meminta penjelasan mengenai pelarungan jenasah ABK WNI dari kapal Long Xin 629 dan Long Xin 604 untuk memeriksa apakah penanganan itu sudah sesuai dengan ketentuan dari Organisasi Buruh Internasional (ILO).

ILO Seafarer’s Service Regulation mengatur prosedur pelarungan jenazah (burial at sea). Dalam ketentuan ILO disebutkan bahwa kapten kapal dapat memutuskan untuk melarungkan jenazah karena beberapa kondisi. Antara lain jenazah meninggal karena penyakit menular atau kapal tidak memiliki fasilitas penyimpanan jenazah sehingga dapat berdampak pada kesehatan di atas kapal.

Melalui perwakilan Indonesia di Selandia Baru, RRT dan Korea Selatan maupun di pusat, pemerintah memberi perhatian serius atas permasalahan yang dihadapi ABK Indonesia di kapal ikan berbendera RRT Long Xin 605 dan Tian Yu 8. Kedua kapal tersebut membawa 46 awak kapal WNI dan 15 diantaranya berasal dari Kapal Long Xin 629.

KBRI Seoul berkoordinasi dengan otoritas setempat telah memulangkan 11 awak kapal pada 24 April 2020. 14 awak kapal lainnya akan dipulangkan pada 8 Mei 2020. KBRI Seoul juga sedang mengupayakan pemulangan jenazah awak kapal berinisial E yang meninggal di RS Busan karena pneumonia. 20 awak kapal lainnya melanjutkan bekerja di kapal Long Xin 605 dan Tian Yu 8.

Pada Desember 2019 dan Maret 2020, pada kapal Long Xin 629 dan Long Xin 604, terjadi kematian 3 awak kapal WNI saat kapal sedang berlayar di Samudera Pasifik. Kapten kapal menjelaskan bahwa keputusan melarung jenazah karena kematian disebabkan penyakit menular dan hal ini berdasarkan persetujuan awak kapal lainnya.

Sebelumnya, Kemenlu bersama Kementerian/Lembaga terkait juga telah memanggil manning agency untuk memastikan pemenuhan hak-hak awak kapal WNI. Kemenlu juga telah menginformasikan perkembangan kasus dengan pihak keluarga. Pihak keluarga sudah sepakat atas pelarungan tersebut dan sudah menerima kompensasi. Akan tetapi Kemenlu masih melakukan investigasi untuk mencari kemungkinan adanya pelanggaran perlakuan di atas kapal Tiongkok terhadap para ABK. (jpc/fajar)

Bagikan berita ini:
8
1
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar