Tim Hukum Novel Baswedan Beber 9 Kejanggalan Proses Sidang

Senin, 11 Mei 2020 11:18

SAKSI KORBAN: Novel Baswedan dalam sidang lanjutan kasus penyiraman air keras terhadapnya di PN Jakarta Utara, Kamis (30...

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Tim Advokasi Novel Baswedan menemukan sembilan kejanggalan dalam proses persidangan kasus penyerangan terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Proses persidangan yang dilakukan dipandang belum bisa menggali fakta-fakta sebenarnya dalam kasus tersebut.

“Pertama, dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) menunjukkan kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan hanya dinilai sebagai tindak pidana penganiayaan biasa, yang tidak ada kaitannya dengan kerja-kerja pemberantasan korupsi dan teror sistematis pelemahan KPK yang selama ini terus diterima oleh para penyidik KPK,” kata Tim Advokasi Novel Baswedan, Kurnia Ramadhana dalam keterangannya, Senin (11/5).

Kurnia menyebut, dakwaan Jaksa sangat bertentangan dengan temuan Tim Pencari Fakta bentukan Polri untuk kasus Novel Baswedan yang menemukan, motif penyiraman air keras terhadap Novel, yang berkaitan dengan kasus-kasus korupsi besar yang ditanganinya.

“Dalam dakwaan JPU tidak terdapat fakta atau informasi siapa yang menyuruh melakukan tindak pidana penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. Patut diduga, Jaksa sebagai pengendali penyidikan satu skenario dengan kepolisian mengusut kasus hanya sampai pelaku lapangan,” beber Kurnia.

“Hal ini bertentangan dengan temuan dari Komnas HAM dan Tim Pencari Fakta bentukan Polri yang menyebutkan bahwa ada aktor intektual dibalik kasus Novel Baswedan,” sambungnya.

Kedua, Tim Advokasi menilai, JPU terlihat tidak menjadi representasi negara yang mewakili kepentingan korban, namun malah membela kepentingan para terdakwa. Menurutnya, temuan ini sudah jauh-jauh hari disampaikan saat agenda persidangan memasuki pembacaan surat dakwaan.

Bagikan berita ini:
4
7
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar