Komunikasi Publik yang Sehat

Dr Hasrullah-- dok pribadi

Oleh : Hasrullah

FAJAR.CO.ID– Satu hal yang wajib dipahami menyampaikan pesan secara baik adalah dengan menguasai teknik komunikasi yang sehat. Khususnya di ruang publik. Maka, saya cukup tertarik dengan testimoni M. Iqbal Sultan, Pakar Komunikasi Unhas, pada akun facebooknya dalam melihat krisis komunikasi yang dipertontonkan pelaku dan aktor pemerintahan. Pelaku komunikator politik dalam sepekan ini diwarnai komunikasi publik yang tidak terkendali dan dianggap meresahkan khalayak penerima.

 Kalimat esensial Iqbal yang ditawarkan kepada audience-nya via media sosial, menyatakan; Iklim Komunikasi Organisasi yang “sehat” tidak akan memberi ruang pada level pimpinan untuk saling berbantahan yang dimana akan membingungkan publiknya. Inti narasi cerdas Iqbal pada intinya dalam melakukan komunikasi publik dibutuhkan iklim komunikasi yang sehat.

 Sound bite (penekanan diksi) yang coba kita bangun sebaiknya menjalin komunikasi harmonis dengan siapa saja yang diajak dalam berkomunikasi. Tidak terkecuali, komunikasi antara pelaku komunikasi pada tingkat bawah sepantasnya menjalankan iklim komunikasi yang sehat. Jika ada pelaksana di lapangan terindikasi melakukan komunikasi kohesif, perlu dipelajari dan dicari tahu kenapa terjadi seperti itu.

 Langkah cek dan ricek menjadi penting agar pimpinan mendapatkan informasi yang jernih, objektif, dan berimbang. Jika pemimpin sudah mendapatkan informasi murni dan objektif serta dipercaya laporan itu netral barulah kita memberi komentar di publik.

Perlu diingat, sebagai orang materi etika berbicara di depan publik baik itu disampaikan di depan kelas mahasiswa dan peserta pelatihan public speaking, seorang pembicara yang baik tentu perlu memperhatikandua prinsip utama dalam komunikasi publik, yaitu; Respect (rasa hormat) dan Attention (perhatian). Jika prinsip ini kita lakukan, maka komunikasi sehat akan tercipta (understanding massage). Bukankah komunikasi antara bawahan dan pimpinan itu perlu dilakukan agar saling menghormati dan menghargai, apalagi kita berbicara di depan publik. Pengalaman leadership menunjukkan jika ada bawahan yang melakukan “kesalahan tindak di lapangan”, sebaiknya dipanggil baik-baik dan diberi “pencerahan” sehingga bawahan tidak dipermalukan di depan umum.

Begitu juga poin Attention (memberi perhatian). Biasanya pemimpin matang dengan berpengalaman, ketika menghadapi bawahan yang melakukan kesalahan, sebaik apa yang dikerjakan bawahan tidak sesuai dengan etika dan aturan sebaiknya diajak berkontemplasi bahwa ketikametode persuasi dan negoisasi mengalami jalan buntu, maka tindakan koersif dapat dilakukan sepanjang tidak melakukan kekerasan fisik. Ataukah pemimpin yang arief dan bijaksanakalau bawahan melakukan kesalahan,lebih baik  tanggungjawabnya diambil alih oleh pimpinan, untuk melindungi bawahan.

Komunikasi yang sehat kita lakukan dalam menjalankan pemerintahan, sepantasnya  memperhatikan etika komunikasi di depan publik. Dan, pengendalian diri berbicara perlu dijaga agar marwah sehingga tidak menimbulkan persepsi negatif di depan audiens. Bahkan yang muncul adalah  pujian yang itu disebut persepsi positif (pencitraan).

Akhirnya, kembali kepada iklim komunikasi sehat. Seperti diutarakan Iqbal Sultan, agar publik tidak bingung menghadapi situasi informasi Covid-19, sebaiknya diantara semua level pimpinan dalam menyampaikan informasi disampaikan secara koordinasi dan harmonisasi pesan. Framing ini perlu diciptakan agar tercipta iklim komunikasi yang sehat. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah Umar

Comment

Loading...