Prof Husain Syam, Sang Visioner Coto Begadang

  • Bagikan

"Itu coto nak, di Makassar ini hanya makanan sela. Bukan juga sarapan, bukan juga makanan berat," ucap penjual Coto diulangi Husain Syam.

Karena masih kesal lantaran tak makan coto, Husain akhirnya bilang "Ini kan makan. Kalau ada orang mau makan jam 10 bahkan mau dijadikan makanan siang kenapa. Adakah kesalahan di situ kita langgar dari nenek moyang kita. Akan terkutukkah kita kalau makan coto di atas jam sembilan?"

Faisal Syam beserta crew tertawa. Apalagi saat Husain menyambung kalimatnya. Tawaan sulit terkontrol. Perut betul-betul terkoyak-koyak.

"Sepanjang tidak ada filosofinya, jika dimakan ini coto di atas jam 10 ke atas, maka hancur ini Makassar. Maka orang bebas untuk menjadikan coto ini sebagai makanan berat," sambung Husain.

Lelaki yang lahir di Desa Kanang, Polman, 7 Juli 1966 itu membiarkan waktu jeda untuk tertawa bersama. Suhu ruangan 16 derajat celcius terasa hangat. Semuanya nyaris berkeringat karena tertawa.

"Sekarang ini, ada mi coto begadang. Bukanya jam tujuh pagi hari ini, sampai jam tujuh pagi besoknya. Tidak pernah mi tutup. Jadi begitulah filosfinya itu ada coto begadang. Dan saya merasa idenya itu dari situ. Saya tidak berhenti ceramahi itu penjual coto untuk produksi banyak. Jangan cuman jadikan makanan sela saja," kenangnya.

Kisah munculnya coto begadang ungkap Husain merupakan sebuah pelajaran berharga. Dimana, dirinya menyadari selalu membuat perubahan. Dan disebutlah, bahwa hal itu menjadi landasan untuk menjadi seorang entrepeneur atau wirausaha.

"Kita merubah minset. Keluar dari pikiran yang tidak logis. Tidak boleh puas dengan kebiasaan. Anggap saja kebiasaan itu bagus. Tetapi saya tidak percaya itu titik optimumnya. Saya masih yakin ini masih yang bisa mengoptimalisasi yang ada. Jadi kita mau terus berkreasi, dan berinovasi ke arah yang lebih baik," imbuh Husain menyimpulkan kisah menjadi seorang visioner coto begadang. (ans/fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan