Donor Darah Gratis Butuh Darah Bayar, Ini Penjelasan Deng Ical

  • Bagikan
rpt

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Banyak masyarakat yang bertanya-tanya mengapa harga setiap kantong darah yang didonorkan secara gratis bisa mencapai harga Rp360 ribu bahkan lebih ketika sudah sampai di rumah sakit untuk ditransfusikan ke pasien yang membutuhkan.

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Makassar, Syamsu Rizal (Deng Ical) mengatakan, biaya yang dibayarkan masyarakat tersebut merupakan biaya pengganti pengolahan darah (BPPD).

"Itu biaya untuk menutupi biaya yang dikeluarkan PMI untuk operasional satu kantong darah. Itulah yang namanya BPPD, bukan harga darah," kata Deng Ical, Kamis (14/5/2020).

Dia menjelaskan, darah yang diambil dari pendonor darah tidak langsung disalurkan ke rumah sakit dan diberikan ke pasien. Perlu diolah terlebih dahulu.

"Untuk memastikan darah layak transfusi ke pasien, membutuhkan biaya kurang lebih antara Rp560 ribu sampai 3 juta per kantong darah itu berdasarkan SK menteri kesehatan dan PMI," ujarnya.

"Kenapa butuh biaya begitu, karena dari biaya fix cost itu sampai biaya kantong, biaya dokter, uji sharing dan biaya regent untuk empat penyakit minimal jadi hepatitis b hepatitis C sililis dan hiv aids. Itu total akumulasinya sekitar Rp560 ribu sampai jutaan," sambungnya.

Lebih lanjut, dirinya mengungkapkan alasan mengapa biaya operasional setiap kantong darah bisa berbeda-beda.

"Misalnya saya bikin di markas PMI, jadi sedikit biayanya bisa 560 ribu. Tetapi kalau saya bikin di luar, pasukanku datang ke sana lengkap 10 orang tiba-tiba 6 kantong ji kodong, biayanya sudah berapa memang. Bahkan satu kantong darah kita ambil di Jeneponto, ada satu kantong darah kita ambil di Sulawesi Barat, itu yang menjadi alasan tingginya biaya satu kantong darah," jelas Deng Ical.

  • Bagikan