Melihat dari Dekat Pesantren Tuju-tuju Bone Tanggung Santri

Jumat, 15 Mei 2020 14:24

AKTIVITAS BERAGAM. Kegiatan santri di Pesantren Darul Huffadh, Tuju-tuju, Bone. (DOK FOR FAJAR)

Meski terdapat pelajaran yang dikolaborasikan dengan pelajaran umum semisal bahasa Indonesia, kimia, dan fisika, identitas kepesantrenan tetap melekat dalam setiap pembelajaran.

Pesantren Tuju-tuju, juga menggunakan dua bahasa dalam keseharian yakni, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Dua minggu penggunaan bahasa Arab dan dua minggu selanjutnya dalam bahasa Inggris.

“Tak ada percakapan tanpa kedua bahasa tersebut. Dan juga mewajibkan seluruh santri dan santriwatinya untuk menghafalkan Al-Qur’an. Dan setiap santri diharuskan minimal sekali mengkhatamkan 30 juz selama menjadi santri,” tutur penulis buku dan novel itu.

Setiap hari santre wajib menghafal

Kondisi pondok pesantren di tengah pendemi Covid-19, pada awalnya tetap menerapkan sistem berjaga-jaga dengan melakukan segala prosedur antisipasi. Tidak ada paket dan tamu yang berkunjung dari luar.

Namun, melihat perkembangan wabah yang makin masif dan banyaknya daerah yang menerapkan pembatasan, membuat pimpinan mengeluarkan kebijakan untuk memulangkan semua santri dan santriwati.

Anak keenam dari pasangan Ustaz Lanre Said (alm) dengan Andi Banuna Petta Paccing (almrh) mengatakan, pertimbangannya, banyak santri berasal dari daerah yang jauh. Dikawatirkan tidak ada transportasi apabila terjadi lockdown pada jalur transportasi darat dan udara.

Bagikan berita ini:
7
10
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar