Melihat dari Dekat Pesantren Tuju-tuju Bone Tanggung Santri

Jumat, 15 Mei 2020 14:24

AKTIVITAS BERAGAM. Kegiatan santri di Pesantren Darul Huffadh, Tuju-tuju, Bone. (DOK FOR FAJAR)

Ribuan santri menempuh pendidikan di Pesantren Darul Huffadh, Tuju-tuju, Bone. Bagaimana kehidupan di sana?

AGUNG PRAMONO Laporan: Bone

FAJAR.CO.ID — Santrinya berasal dari berbagai pulau: Sulawesi, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Papua. Bahkan Malaysia. Uniknya, biaya para santri ditanggung sendiri oleh pimpinan pondok pesantren.

Lokasi pesantren itu berada di Tuju-tuju, Kajuara. Makanya dikenal pula dengan nama Pesantren Tuju-tuju. Jaraknya 66 kilometer dari Watampone, ibu kota Kabupaten Bone.

Lokasinya betul-betul di pedesaan. Tenang. Jauh dari keramaian suara kendaraan. Darul Huffadh didirikan pada 7 Agustus 1975 oleh AGH Lanre Said. Kini usianya 45 tahun.

Para santri di ponpes ini hanya dituntut belajar dan menghafal Al-Qur’an tanpa dipungut biaya. Saat ini, santri dan santriwati yang tercatat sebanyak 1.635 orang. Dewan guru putri 54 orang dan 87 staf guru putra.

“Staf dewan guru belum terhitung dari tenaga pengajar madrasah khusus untuk pelajaran umum yang bermukim di luar pesantren,” kata Direktris Pesantren Putri Darul Huffadh, Sa’diah Lanre Said kepada FAJAR Kamis, 7 Mei lalu.

Anak dari pendiri ponpes tersebut menceritakan, kota asal santri dan santriwati paling banyak dari Sulsel dan paling jauh berasal dari Malaysia.

“Pondok Pesantren Darul Huffadh, tidak membebani santri dan santriwatinya dalam hal biaya apapun. Baik biaya bulanan maupun biaya tahunan. Semuanya ditanggung oleh bapak pimpinan,” ucapnya.

Bahkan Pesantren ini tidak memiliki dana bantuan internasional. Pondok tidak menerima apapun dalam bentuk sumbangan, hanya menerima dalam bentuk sedekah yang tidak bersyarat.

Berdiri di atas semua golongan. Dalam arti, pondok tidak berkiblat pada salah satu golongan apapun. Untuk model pembelajaran, sebelum Covid-19, pada setiap Ramadan semua santri dan santriwati tinggal di pondok dengan segala aktivitas yang ada hingga Lebaran.

Para santri di ponpes ini hanya dituntut belajar dan menghafal Al-Qur’an tanpa dipungut biaya.

Saat Ramadan pun, kegiatan masuk kelas dan salat tarawih berjalan dengan baik.

Namun, saat ini, tidak demikian. Karena santri dan santriwati dari kelas 1 sampai 5, Tsanawiyah dan Aliyah telah dipulangkan ke rumah mereka hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Untuk kurikulum pembelajaran di Pesantren Tuju-tuju, masih tetap mempertahankan pelajaran pondok yang lebih dominan dalam keseharian. Seperti nahwu, sharaf, balaghah, durushul lughah, tafsir Al-Qur’an, dan lainnya.

Meski terdapat pelajaran yang dikolaborasikan dengan pelajaran umum semisal bahasa Indonesia, kimia, dan fisika, identitas kepesantrenan tetap melekat dalam setiap pembelajaran.

Pesantren Tuju-tuju, juga menggunakan dua bahasa dalam keseharian yakni, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Dua minggu penggunaan bahasa Arab dan dua minggu selanjutnya dalam bahasa Inggris.

“Tak ada percakapan tanpa kedua bahasa tersebut. Dan juga mewajibkan seluruh santri dan santriwatinya untuk menghafalkan Al-Qur’an. Dan setiap santri diharuskan minimal sekali mengkhatamkan 30 juz selama menjadi santri,” tutur penulis buku dan novel itu.

Setiap hari santre wajib menghafal

Kondisi pondok pesantren di tengah pendemi Covid-19, pada awalnya tetap menerapkan sistem berjaga-jaga dengan melakukan segala prosedur antisipasi. Tidak ada paket dan tamu yang berkunjung dari luar.

Namun, melihat perkembangan wabah yang makin masif dan banyaknya daerah yang menerapkan pembatasan, membuat pimpinan mengeluarkan kebijakan untuk memulangkan semua santri dan santriwati.

Anak keenam dari pasangan Ustaz Lanre Said (alm) dengan Andi Banuna Petta Paccing (almrh) mengatakan, pertimbangannya, banyak santri berasal dari daerah yang jauh. Dikawatirkan tidak ada transportasi apabila terjadi lockdown pada jalur transportasi darat dan udara.

Meski begitu, masih ada beberapa santri bermukim di pondok. Mereka berasal dari kelas III Aliyah dengan mempertimbangkan banyaknya kegiatan menjelang kelulusan mereka.

Di antaranya orientasi keguruan, pengajaran tahsin, ujian tahfiz, dan persiapan tadris amaliyah (praktik mengajar).

Buku-buku yang diajarkan bukanlah menjadi tolok ukur dari mutu yang sebenarnya. Inti pelajaran dari salah satu buku wajib di pondok ini adalah bagaimana anak-anak menguasai setiap bahasa dan kosakata baru dan bukan hanya tahu isi cerita dalam buku.

Usaha ini bukanlah tidak memiliki tujuan. Menurut perempuan kelahiran Bone, 2 Mei 1981 itu, Darul Huffadh berusaha membina santri yang kelak bukan hanya mampu membaca buku-buku berbahasa Arab, tetapi juga memahami dari setiap isinya.

“Pondok ini layaknya ibu yang memberikan anak-anaknya benih-benih padi untuk tumbuh dan berkembang menjadi padi yang berisi dan bukan ibu yang hanya mampu menyuapkan nasi ke mulut anak-anaknya yang akan habis dalam sejenak. Karena masa depan santri adalah harapan terbaik pondok untuk mereka,” harap perempuan yang juara 2 lomba tahfiz Al-Qur’an putri yang diikuti 14 negara itu. (*/abg-zuk)

Bagikan berita ini:
3
5
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar