Ramadan Mahasiswa Pinrang di Negeri Gajah Putih, Dapat Makanan Halal Cita Rasa Thailand Selatan

Supartina Hakim mahasiswi pascasarjana di Mahidol University, Thailand

FAJAR.CO.ID, BANGKOK– Ramadan di negeri gajah putih memang sangat berbeda tahun ini. Supartina Hakim, mahasiswi pascasarjana di Faculty of physical therapy, Mahidol University, Thailand ini menikmati bulan ramadan tanpa agenda buka puasa bersama di KBRI, yang merupakan agenda rutinitasnya di Bulan Ramadan sebelumnya.

Kini, Inna sapannya hanya bisa menikmati Bulan Ramadan di Jittakorn Apartment, Phuttamonthon 4 road, Salaya, Nakhon Pathom, tempat tinggalnya. Sembari tetap menyelesaikan tugas akhirnya di kampus tersebut untuk meraih gelar magister.

Alumnus Fisioterapi Unhas asal Kabupaten Pinrang ini menjelaskan, makanan halal tetap dijumpai di kota ini, namun dengan cita rasa asli Thailand Selatan.

“Makanan halal ada, namun didominasi khas rasa Thailand Selatan yang mirip dengan makanan melayu-Indonesia pada umumnya, itu memiliki cita rasa asam dan pedas seperti campuran masakan aceh dan minang, itu uniknya juga makanan disini, tetap halal,” ujarnya.

Ia juga bersyukur banyak menjumpai komunitas muslim di kota ini, sehingga bisa saling berbagi informasi dengan masyarakat komunitas muslim lainnya. Itu sangat dirasakan sebelum pandemi korona juga menyerang negara ini.

“Komunitas muslim Thailand itu banyak, namun didominasi muslim melayu Thailand Selatan, komunitas mahasiswa muslim Indonesia disini juga solid, sehingga nuansa ramadan juga terasa, dengan berbagi makanan, buka bersama, tarawih bersama, pengajian. Jadi tetap saya rasa seperti berada di Indonesia, itu tetap tetap terjaga,” paparnya.

Walaupun begitu, ia juga mengaku sudah dua tahun menjalani ibadah puasa ditengah suhu yang tinggi di kota tersebut. Itu menjadi tantangan tersendiri bagi Inna selama menjalani ibadah puasa dua tahun terkahir.

“Ini pengalaman tersendiri juga, tantangannya menjalani ibadah puasa di Bulan Ramadan dua tahun terakhir berada di musim panas, paling tinggi suhu bisa mencapai 43 derajat celcius,” katanya.

Lebih lanjut disampaikan, selama pandemi korona terjadi, Syaikhul Islam Thailand yang serupa dengan MUI telah mengeluarkan maklumat untuk menerapkan secara penuh physical distancing dengan meniadakan salat tarawih hingga salat ied berjamaah, sama seperti di Indonesia, itu diganti dengan salat di rumah masing-masing selama masa pandemi covid-19.

“Yang berbeda di masa pandemi covid-19 ini, hampir semua aktivitas dilakukan di apartment masing-masing, sehingga waktu dihabiskan untuk belajar, beribadah, bahkan memasak di kamar masing-masing,” jelasnya.

Termasuk kajian pun dilakukan secara daring oleh komunitas muslim yang ada disana.

“Kegiatan ramadan seperti buka puasa, tarawih, mendengarkan kajian , tidak seperti tahun sebelumnya. diganti menggunakan platform online melalui zoom atau google meet, sehingga tetap bisa berinteraksi dengan sesama,” ujarnya.

Bahkan kondisi food street sekitar kampusnya juga sangat sepi pembeli dibandingkan tahun sebelumnya. Sehingga ia harus membeli bahan makanan kemudian diolah sendiri.

“Sementara, terkait makanan halal, Kalau beli di supermarket kita perhatikan logo halalnya . Begitu juga apabila makan di tempat makan, maka harus tanya dulu mereka, ada babi mereka jual atau tidak ada,” ucapnya.

Walaupun begitu, Inna tetap bisa melaksanakan thesis defense ditengah pandemi korona dan dalam Bulan Ramadan ini. Itu menjadi pengalaman yang tak bisa dilupakan, melaksanakan ujian tesis ditengah pandemi korona dan Bulan Ramadan.

“Bersyukur juga saya tetap bisa mengikuti thesis defense pas ramadan ini,” ucapnya.

Dikatakan bahwa, pada saat ujian itu berlangsung di dalam kampus dengan menerapkan physical distancing dan juga sangat dibatasi yang hadir hanya ada tujuh orang yang bisa ada di dalam ruang ujian itu. “Tetap diterapkan physical distancing dan pelaksanaannya juga di dalam kampus tetapi yang hadir sangat dibatasi,” katanya.(fit/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Adi Mirsan

Comment

Loading...