Puasa dan Pemimpin

Itji Diana Daud

Oleh Itji Diana Daud

Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus terang kecuali oleh orang yang dizalimi dan

Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Jika kamu menyatakan baik atau menyembunyikannya  atau memaafkan suatu kesalahan ( orang Lain) maka sungguh Allah Maha Pemaaf  Maha Kuasa (An-Nisa’ 148 -149 ).

**

Ibadah di bulan puasa bisa menjadi media untuk memperbaiki diri bagi rakyat dan juga para pemimpin. Ibadah menahan hawa nafsu ini juga bisa menjadi momentum untuk meningkatkan keharmonisan untuk menuju tujuan yang sama guna memberikan yang terbaik bagi rakyat, bangsa dan Negara. Semua pemimpin dan pejabat bekerja lebih gigih dan lebih keras dengan terus meningkatkan kualitas keimanannya. Bulan suci Ramadhan selalu menjadi momentum bagi seluruh umat untuk memperbaiki diri masing-masing, dalam satu harmoni menuju tujuan yang sama. Kita memperbaiki mental dan kekompakan untuk menentukan kebijakan yang paling baik untuk bangsa dan Negara. Khususnya dalam masa pandemi Covid-19, mari belajar untuk lebih banyak  ikhlas, mencurahkan tenaga , pikiran dan waktu mengatasi keadaan menuju tatanan  kehidupan baru.

Munculkan rasa malu jika tak menunjukkan sikap rela berkorban, bergotong-royong  dan  melalaikan tanggungjawab untuk hal-hal yang superpragmatis, kompromistis, bahkan kadang-kadang oportunis.

Etos puasa adalah “pengendalian hawa nafsu”, karena sifat manusia yang sangat berhasrat untuk memperkaya diri, menindas, marah dan melampiaskan semua jenis syawatnya ( politik, seks, makan dan minum).

Tak heran jika disebutkan bahwa tujuan akhir dari berpuasa adalah menjadi orang bertaqwa, peduli kepada sesama, taat kepada rasul-Nya dan menjauhkan diri dari semua sifat buruk.

Seorang muslim apalagi  pemimpin, diharapkan selalu amanah menjalankan amanat rakyat dengan  benar sehingga menjamin kemaslahatan umat.

Oleh karena itu, harapan dalam bulan ramadhan ini, dapat mengasah kejujuran dan kepribadian seseorang apalagi bagi seorang pemimpin.

Tinggal 10 hari berpuasa, semoga telah dapat memunculkan rasa solidaritas sesama umat Islam terutama untuk membantu masyarakat miskin.

Bulan Ramadhan adalah saat tepat berbagi dan peduli. Banyak penceramah dan mubalig di media cetak dan gambar mengajak memperoleh kemenangan. Kemenangan tidak hanya selama bulan puasa tetapi kemenangan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari –hari selama 11 bulan berikutnya.

Semoga Allah memberi kesempatan  dan kemampuan untuk memperbaiki diri sebagai wujud kemenangan yang diraih pada bulan ramadhan ini. (*/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah Umar

Comment

Loading...