Ramadan di Inggris, Berbagi Makanan Buka Puasa Bersama Komunitas Muslim Indonesia

Nomi mahasiswi Pascasarjana Hukum Internasional Leeds University melewati Bulan Ramadan di Kota Leeds, Inggris.

FAJAR.CO.ID, LEEDS — Walau pun Islam minoritas di Kota Leeds, Inggris, Nomi, mahasiswi pascasarjana hukum internasional di Leeds University, merasakan keakraban bersama penduduk asli Leeds dan para komunitas Islam yang ada di kota tersebut.

Lockdown yang diberlakukan di Inggris akibat pandemi corona, sangat dirasakan masyarakat yang bermukim di sana. Terlebih lagi di tengah Bulan Ramadan, tidak ada buka puasa bersama dan akses keluar rumah yang sangat dibatasi.

Nomi yang juga Alumnus Fakultas Hukum Unhas ini mengaku tetap bersyukur dengan kehadiran orang-orang Indonesia yang menganut agama Islam di Kota tersebut. Sehingga bisa saling berbagi makanan untuk berbuka puasa.

Terlebih lagi, menjalani ibadah puasa di sana harus menahan tidak makan dan minum hingga 19 jam, waktu yang lebih lama daripada menjalani ibadah puasa di Indonesia.

“Sebenarnya berharap ada agenda buka puasa bersama dengan orang-orang Indonesia yang ada di sini. Tetapi akibat pandemi, semua terbatas. Tetapi saya sering mendapat kiriman makanan dari teman-teman yang berasal dari Indonesia yang juga ada di sini. Itu suatu kesyukuran bagi saya,” bebernya.

Nomi juga mengaku sangat bersyukur apabila mendapat kiriman masakan cita rasa Indonesia. Kiriman itu datang dari orang-orang Indonesia yang bermukim di kota tersebut.

“Tetapi, meskipun tidak ada agenda buka puasa bareng, biasanya saling kirim makanan. Kadang saya juga dapat kiriman dari teman, lebih senang lagi kalau dikirimin makanan Indonesia,” ucapnya.

Nomi juga mengaku kehadiran orang-orang Indonesia di Kota tersebut memberikan warna tersendiri baginya yang menjalani ibadah puasa jauh dari keluarga.

“Saya juga agak kaget dan terharu, mereka begitu perhatian. Saya seperti menemukan keluarga baru di sini, bersama orang-orang Indonesia lainnya. Apalagi yang Ibu-ibu ikut suaminya yang sedang kuliah juga di Inggris. Mereka memperlakukan sebagai keluarga satu sama lain,” katanya.

Komunitas Muslim yang ada di Inggris juga disebut aktif melaksanakan kajian, sebelum pandemi corona. Ia pun mengaku kerap menghadiri kajian yang diselenggarakan komunitas muslim yang ada di Inggris.

“Di sini juga komunitas orang-orang muslim asal Indonesia juga aktif dan saya pernah datang beberapa kali ikut pengajian, jadi saling kenal dan pengajian-pengajian yang diselenggarakan komunitas muslim di Inggris,” ungkapnya.

Selain itu, Nomi juga menceritakan ramahnya dosen-dosen di kampusnya itu selama pelaksanaan kuliah daring, akibat pandemi korona.

“Lockdown semenjak corona. Sekarang semuanya jadi serba di rumah aja. Paling keluar untuk belanja. Kuliah juga, jadi cuma bisa secara virtual,” katanya.

Ia mengaku bersyukur dengan sistem pendidikan di kampus itu, yang penuh kebijakan berpihak ke mahasiswa dan keramahan dosen-dosennya.

“Senangnya karena kalau soal pendidikan di kampus itu sangat peduli sama mahasiswanya. Jadi masa pandemi seperti ini pihak kampus juga mengerti. Mereka memeberikan keringanan, baik dalam ujiannya,” ucapnya.

Terlebih lagi komunikasi dosen-dosen yang sangat perhatian dan memberikan kebijakan ke mahasiswa selama pandemi corona ini.

“Dosen-dosennya juga tetap komunikatif, meskipun cuma dihubungi secara online. Dosen di sini juga sangat peduli sama mahasiswa internasionalnya,” tambahnya. (fit)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...