Grup WA “Cerita Kedai Kopi” Makassar Galang Dana untuk Penjual Jalangkote di Pangkep

whatsapp | jawapos.com

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Tiga video perundungan memperlihatkan sekelompok pemuda mengerjai bahkan menganiaya bocah penjual jalangkote (makanan ringan khas Sulsel) di Pangkep beredar luas. Video tindakan bullying ini kemudian ramai di jagad media sosial.

Sebagaimana diketahui, perundungan terjadi di Kelurahan Bonto-Bonto, Kecamatan Ma’rang, Pangkep, pada Minggu, 17 Mei 2020. Polisi pun tidak menunggu lama langsung bergerak untuk menyelidiki latar video dan berhasil mengamankan pelaku. Dia adalah Firdaus (26), sementara korbannya adalah RZ (12).

Uluran tangan untuk membantu RL (12 tahun) bocah korban bullying atau perundungan Pangkep pun berdatangan. Baik secara materi maupun moril seperti tak ada hentinya.

Komunitas yang tergabung dalam Grup WhatsApp di Kota Makassar dinamai “Cerita Kedai Kopi” salah satunya, galang dana untuk membantu RZ (12).

Melihat video yang beredar tersebut, anggota grup Cerita Kedai Kopi segera berinisiatif untuk melakukan penggalangan dana.

Sekadar informasi, anggota dalam grup dalam Cerita Kedai Kopi ini jumlahnya tidak begitu banyak. Totalnya 57 peserta. Mereka menyeruput kopi paling sering di Warung Kopi (warkop) Phoenam, Jalan Boulevard, Makassar.

Profesi di dalamnya cukup beragam. Mulai dari anggota DPR RI, pengusaha ternama di Makassar, ketua DPRD, Rektor, ketua perguruan tinggi, pengacara, pimpinan partai politik, pejabat pemprov Sulsel, akademisi, tokoh pemuda, pensiunan PNS, legenda PSM Makassar, perusahaan pembiayaan, dan wartawan.

“Bagus kita cari datanya ini anak, terus dibantu ramai-ramai,” kata Devo Khadapi, salah seorang peserta grup. “ini ide yang sangat bagus. Ayo donasi anak jalangkote,” sambung Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Supriansa.

Sebelumnya juga, Supriansa yang juga merupakan anggota Komisi III DPR RI melalui sambung telpon sudah menghubungi Kapolres Pangkep AKBP Ibrahim Aji. Pihaknya mengapresiasi ditangkapnya para pelaku. Dan meminta agar tetap atensi masalah ini agar jangan terulang pada orang lain.

Tidak menunggu lama, list untuk donasi penjual jalangkote di Pangkep mulai banyak diisi oleh peserta grup. Anno Suparno salah seorang peserta grup kemudian memasukkan nomor rekeningnya sebagai pengumpul dana lalu diserahkan kepada RL (12). Peserta grup kemudian memasukkan bukti trasnferasnnya satu persatu. “Bukan persialan jumlahnya. Ini adalah bentuk kepedulian,” kata Bahtiar Maddatuang.

“Grup ini walaupun banyak becanda. Tetapi saat diskusi yang serius juga bisa, terlebih sifatnya sosial responnya sangat cepat,” tambah Hans Palijama, tokoh masyarakat Maluku. “Semoga bisa bermanfaat,” sambung pengusaha sekaligus elite Golkar Sulsel, Rusdin Abdullah.

Sekadar diketahui, RL berjualan Jalangkote untuk membantu ekonomi keluarga.

Sebelumnya, RL Bocah berusia 12 tahun yang merupakan penjual Jalangkote dibully oleh seorang pemuda dan teman-temannya. (taq)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad

Comment

Loading...