22 Tahun Reformasi, Aktivis 98 Nilai Sistem Politik Saat Ini Sama Seperti Orde Baru

  • Bagikan

‎”Tahun 1998 suara mahasiswa sangat kritis, bergerak untuk perubahan. Tapi sekarang suara mahasiswa seperti dibungkam, atau bisa jadi gerakan mahasiswanya yang diam, Karena enggak tumbuh kesadarannya‎,” ungkapnya.

Sementara ‎Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI)‎ Ujang Komarudin mengatakan, reformasi saat ini mengalami kemunduran. Salah satu amanat reformasi adalah memberantas korupsi. Namun saat ini korupsi masih subur saja.

“Reformasi bukan mengalami kemajuan tapi mengalami kemunduran. Tanda-tandanya korupsi semakin merajalela,” ujar Ujang.

Pergerakan mahasiswa era digital juga berbeda. Saat ini mahasiswa terpolarisasi dengan banyak kepentingan. Sehingga jika ada masiswa yang bergerak menuntut perubahan kepada pemerintah tidak kompak. Ada mahasiswa yang turun ke jalan. Namun banyak juga yang malas.

“Misalnya banyak orang kampus yang direkrut ke istana. Sehingga ini menyulitkan mahasiswa untuk bisa bergerak. Ada yang jadi menteri,” tuturnya.

“Mahasiswa juga terpolarisasi. Sehingga gerakan-gerakan mudah diamputasi oleh pemerintah. Mudah dikondisikan oleh pemerintah. Ada operasi mahsiswa tidak besar‎,” tambahnya.

Adapun pada 21 Mei 1998 silam Presiden Soeharto menyatakan mundur setelah berkuasa selama 32 tahun, terhitung sejak dia mendapat mandat Surat Perintah 11 Maret 1966. Pidato pengunduran diri Soeharto dibacakan di Istana Merdeka sekitar pukul 09.00 WIB.

Dalam pidatonya, Soeharto mengakui bahwa langkah ini dia ambil setelah melihat perkembangan situasi nasional saat itu. Tuntutan rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang. Dengan pengunduran diri ini, Soeharto menyerahkan kekuasaan kepresidenan kepada Wakil Presiden BJ Habibie. (jpc/fajar)

  • Bagikan