Anggap Takut Berhadapan Pasien Covid-19, 109 Tenaga Medis Dipecat

upati Ogan Ilir Ilyas Panji Alam (Antara)

FAJAR.CO.ID, OGAN ILIR — Bupati Ogan Ilir Ilyas Panji Alam menyatakan keputusan pemerintah daerah memecat 109 orang tenaga kesehatan status honor di Rumah Sakit Umum Daerah Ogan Ilir sudah benar. Pemecatan dinilai sudah sesuai prosedur karena semua tuntutan sudah dipenuhi namun tidak ada respons baik.

“Mereka (109 tenaga kesehatan) minta dilengkapi alat pelindung diri (APD), padahal di rumah sakit ada ribuan, silahkan cek semuanya mulai dari kacamata, sarung tangan, dan lain-lain,” kata Ilyas Panji.

Sebelumnya, diketahui bahwa RSUD Ogan Ilir melakukan pemecatan secara tidak hormat terhadap 109 tenaga kesehatan. Pemecatan dilakukan berdasarkan SK Bupati Ogan Ilir nomor 191/KEP/RSUD/2020, salah satu poin pertimbangannya yakni para tenaga honorer tidak masuk bekerja lima hari berturut-turut sejak 15 Mei 2020.

Ilyas Panji menduga bahwa tuntutan APD, insentif, dan rumah singgah hanyalah alasan para tenaga honorer yang takut berhadapan dengan pasien Covid-19, sehingga ikut mengganggu penanganan virus corona di sana.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir telah menyiapkan 34 ruangan khusus di DPRD Ogan Ilir dengan fasilitas lengkap untuk singgah tenaga kesehatan. Sementara terkait insentif kerja, menurutnya hal ini tidak wajar karena para tenaga kesehatan itu belum menunjukkan kinerjanya.

“Ketika negara butuh tenaga mereka tapi malah mereka tinggalkan tugas, sementara apa yang mereka tuntut sudah dipenuhi jauh-jauh hari,” kata Ilyas menegaskan.

Meski demikian, ia memastikan pelayanan di RSUD Ogan Ilir tetap berjalan optimal karena ada ratusan tenaga kesehatan dan medis yang masih siaga. Mereka juga akan mencari pengganti 109 orang itu secepatnya.

Sementara, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sumatera Selatan Yusri menambahkan bahwa pemecatan tersebut berdampak pada penanganan kasus Covid-19, meski di satu sisi pihaknya mendukung keputusan itu.

“Kalaupun ada pasien tapi mereka (tenaga kesehatan) tidak mau melayani ya sama saja, tidak ada maknanya, kalau masalahnya APD harusnya tinggal usulkan saja ke provinsi nanti kami salurkan,” ujarnya.

Ia berharap tenaga kesehatan dan medis tetap fokus melayani selama pandemi, terutama di tengah meningkatnya kasus COVID-19 yang telah mencapai 674 kasus per 21 Mei di Sumsel, jika memang ada kekurangan maka harus cepat dikoordinasikan. (jpc/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah Umar

Comment

Loading...