Covid-19 Catat Rekor Tertinggi pada Kamis, Ahli Virologi Prof G N Mahardika Jelaskan Ini

Jumat, 22 Mei 2020 11:12

ALAT TES: Salah seorang perawat menunjukkan alat tes cepat merek wondfo yang digunakan pemprov untuk rapid test orang be...

Angka R0 kasus di luar negeri bahkan, menurut dia, dianggap lebih besar dari tiga.

Hanya saja, menurut Mahardika, secara epidemiologi Indonesia masih berstatus under-detected.

Kemampuan negara dalam pengujian COVID-19 memang harus dibenahi segera.

Berdasarkan data dari berbagai sumber, jumlah pengujian di Indonesia hanya 65 orang per satu juta penduduk.

“Kita bandingkan dengan Jepang misalnya, yang mempunyai rasio 509 per juta penduduk. Rasio Indonesia hanya 10 persen dari Jepang”.

Jika angka ini dijadikan patokan, bahwa Indonesia baru mendeteksi 10 persen dari kasus yang sebenarnya, menurut dia, jumlah kasus terkonfirmasi saat ini mestinya minimum 200.000.

Selain itu ia mengatakan angka kasus terkonfirmasi mestinya tidak membuat masyarakat begitu cemas.

Secara alami, virus COVID-19 diketahui tidak selalu menyebabkan kasus berat, apalagi sampai meninggal.

Sebagian besar orang yang terpapar, menurut dia, tidak menjadi sakit. Yang mengembangkan gejala klinis pun lebih banyak klinis ringan.

Informasi dari WHO, 80 persen pasien yang sakit dapat sembuh tanpa pengobatan khusus.

Data dari karantina kapal pesiar Diamond Princess di Jepang yang dimuat pada Journal Eurosurveillance bisa dijadikan patokan.

Persentase orang terpapar tapi tak terinfeksi sekitar 75 persen. Proporsi yang positif tanpa gejala adalah 8 persen, dan yang simptomatik adalah 17 persen.

Bagikan berita ini:
3
10
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar