Covid-19 Catat Rekor Tertinggi pada Kamis, Ahli Virologi Prof G N Mahardika Jelaskan Ini

Jumat, 22 Mei 2020 11:12

ALAT TES: Salah seorang perawat menunjukkan alat tes cepat merek wondfo yang digunakan pemprov untuk rapid test orang be...

Data dari Wuhan, China, yang dipublikasi di JAMA menyebutkan pasien yang kritis hanya 5 persen dari yang mengeluh ringan sampai berat. Itu berarti 5 persen dari 17 persen, artinya hanya 0.85 persen.

Menurut Mahardika, di alam yang sebenarnya, bukan kapal pesiar, angkanya dapat jauh lebih kecil.

Data kasus COVID-19 harian yang fatal yang mestinya membuat khawatir.

Akar masalahnya harus segera diinvestigasi dan intervensi terbaik harus segera dilakukan, kata dia.

Jumlah rata-rata setiap 10 hari (moving average 10/MA10) kasus dan fatalitas baru dapat kita lihat pada ilustrasi di bawah. MA10 ditampilkan untuk mengurangi “kebisingan” data.

Tren angka kasus harian memang meningkat. Ini sejalan dengan peningkatan kapasitas lab, yang kini mencapai 30 laboratorium di mana beberapa fasilitas tersebut sedang berusaha menggenjot kapasitasnya.

Yang mengkhawatirkan, menurut Mahardika, justru tren angka kasus fatal yang kembali mendekati puncak sekitar hari ke-50 sejak konfirmasi COVID-19 di Indonesia yang pertama.

Ia mengaku sulit mengidentifikasi berbagai faktor yang berkontribusi pada statistik itu.

Penyebabnya bisa saja keterlambatan pelaporan atau letupan kasus satu bulan yang lalu, sementara data umur pasien yang sedang dalam perawatan intensif juga sulit diakses.

“Itu tantangan utama Indonesia saat ini. Pemerintah mesti segera menyediakan kamar perawatan rumah sakit untuk kasus berat yang memadai,” katanya.

Bagikan berita ini:
8
2
4
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar