PSBB Bukannya Pasien Covid-19 yang Turun tetapi Kesadaran Masyarakat

KECEWA: Henry Sulfianto, relawan Covid-19 asal Bangil, menggelar aksi demo tunggal untuk menyoroti rendah nya kesadaran warga dalam mematuhi protokol. (IWAN ANDRIK/JAWA POS RADAR BROMO)

FAJAR.CO.ID, SURABAYA — Jumlah pasien positif coronavirus disease (Covid-19) di Jatim terus bertambah. Bahkan, kemarin lonjakan tambahan penyandang virus korona begitu drastis. Mencapai 502 pasien.

Namun, di tengah persebaran yang cukup masif, ada yang masih ironis. Tingkat kepatuhan publik di berbagai daerah di Jatim terhadap protokol pencegahan Covid-19 cenderung menurun. Terutama menjelang memasuki masa Lebaran.

Situasi ini membuat Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Jatim Khofifah Indar Parawansa begitu resah. Dia meminta agar pemangku kebijakan di kabupaten/kota untuk lebih ketat dalam menerapkan social maupun physical distancing.” Standar protokol pencegahan virus harus ditegakkan,” katanya kemarin.

Jelang memasuki Lebaran, kesadaran warga untuk mematuhi social-physical distancing memang terlihat menurun. Perilaku itu juga dilakukan pasien yang terindikasi terjangkit virus.

Yang cukup kasatmata adalah penumpukan massa di pusat-pusat keramaian maupun area publik. Salah satunya adalah saat pembagian bantuan sosial di sejumlah kantor. Misalnya, di Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, ratusan warga penerima bantuan mengantre untuk mendapat giliran.

Situasi sama terjadi di Ponorogo. Bahkan, sejumlah ruas jalan di wilayah pusat kota di kabupaten itu kembali ditutup. ”Ini untuk menyikapi bertambahnya aktivitas masyarakat jelang Lebaran,’’ kata Kanit Turjawali Satlantas Polres Ponorogo Iptu Agus Syaiful Bahri.

Kepala Dinas Perhubungan Ponorogo Djunaedi mengatakan, penutupan ruas jalan berlaku sementara waktu. Namun, tidak tertutup kemungkinan diperpanjang jika aktivitas masyarakat masih padat dan tidak mengindahkan physical distancing. ”Dievaluasi perkembangannya’’ tuturnya.

Komentar

Loading...