Pekarangan Pangan, Benteng Ketahanan Pangan Keluarga


Oleh: Munawar Khalil N. 

FAJAR.CO.ID — Sebuah kelompok wanita tani di Bogor, memanen sayuran dari pekarangan. Berbagai sayuran seperti kacang tanah, kacang b ogor, cabe, caisim, terong, dan kacang panjang mereka panen di lahan pekarangan yang luas seluruhnya mencapai 2.000 meter persegi. Itu terjadi sebelum pandemi datang. Jika tidak ada kondisi seperti sekarang, niscaya mereka sudah berkumpul lagi membuat acara panen dan makan bersama seperti sebelum pagebluk ini melanda. 

Di tengah pandemi saat ini, pekarangan dipandang sebagai salah satu solusi strategis di sektor pertanian. Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi, mengemukakan tiga alasan mengapa pekarangan penting dalam menjaga ketahanan pangan. Pertama, negara-negara di dunia cenderung menahan produk pangan mereka untuk diekspor demi menjaga kebutuhan pangan dalam negeri. Ini otomatis mengurangi pasokan beberapa komoditas pangan yang masih bergantung dari impor seperti bawang putih.  

Kedua, dampak pandemi ini mengakibatkan banyaknya orang miskin baru karena kehilangan pekerjaan, dan mereka pulang ke kampung sebagai pengangguran. BPS memperkirakan penambahan pengangguran akibat pandemi Covid-19 bisa mencapai 5,23 juta orang. Jika tidak segera ditangani akan menimbulkan dampak sosial ekonomi lanjutan. Ketiga, pangan yang dihasilkan dari pekarangan relatif lebih singkat prosesnya dari penanaman hingga pemanenan. 

Apa yang dikemukakan oleh Agung di atas memang menunjukkan pentingnya memproduksi pangan dari pekarangan di tengah pandem i Covid-19. Mungkin tidak serta merta menyelesaikan persoalan pemenuhan pangan bagi 267 juta rakyat Indonesia, namun pekarangan dapat memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga di tengah kondisi yang serba dibatasi ini.

Komentar

Loading...