Saleh Partaonan: Kenapa Tidak Sekalian Dibandingkan dengan Kematian akibat Perang Dunia II?

Kamis, 28 Mei 2020 13:49

Anggota DPR RI, Saleh Partaonan Daulay .

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay menanggapi pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam) Prof Mahfud MD, yang membandingkan kematian akibat kecelakaan lalu lintas maupun penyakit diare lebih banyak dibandingkan Covid-19.

Saleh menilai pernyataan Mahfud MD kurang bijak jika dikaitkan dengan penanganan covid-19 di Indonesia. Selain itu, perbandingan kematian akibat kecelakaan lalu lintas dengan kecelakaan akibat covid-19 juga tidak tepat. Sebab apa pun alasannya, keselamatan diri dan jiwa warga negara adalah tanggung jawab negara.

“Lagi pula, kenapa perbandingannya kecelakaan lalu lintas dan beberapa penyakit katostropik? Kenapa tidak sekalian dibandingkan dengan kematian akibat perang dunia II? Kematian akibat perang dunia pasti jauh lebih banyak,” ucap Saleh kepada jpnn.com, Kamis (28/5).

Pernyataan Prof Mahfud, menurut mantan ketua umum PP Pemuda Muhammadiyah ini, mengindikasikan beberapa hal. Pertama, pemerintah terkesan sudah tidak mampu melawan penyebaran Covid-19. Padahal, pemerintah sudah melakukan banyak upaya. Ternyata, usaha itu belum mampu mengontrol laju penyebaran corona. Oleh karena itu, masyarakat yang diminta untuk tidak takut berlebihan.

Kedua, pemerintah saat ini memang sedang membangun kesadaran baru warga masyarakat untuk kembali menjalani kehidupan sebagaimana biasa. Ini diperlukan agar roda perekonomian kembali berjalan normal.

Sebab, kebijakan PSBB yang diterapkan selama ini secara nyata berdampak langsung pada perekonomian di tingkat nasional, bahkan global.

Ketiga, Saleh menilai bahwa pemerintah menjadikan penyelamatan ekonomi sebagai prioritas utama. Sementara, penanganan covid-19 hanya akan dilakukan sebagaimana penanganan penyakit-penyakit menular lain yang ada di Indonesia.

Hal itu menurutnya bertentangan dengan keputusan pemerintah yang telah menjadikan covid-19 sebagai bencana nasional. Dan, sampai saat ini gugus tugas menegaskan bahwa status bencana nasional itu belum berakhir.

“Kalau pak Mahfud meminta agar masyarakat tidak takut berlebihan, lalu kenapa sejak awal ini ditetapkan sebagai bencana nasional? Bukankah suatu bencana, apalagi itu statusnya bencana nasional, sangat wajar ditakuti dan dikhawatirkan?” tegasnya mempertanyakan.

Oleh karena itu, wakil ketua fraksi PAN DPR ini mendesak agar para pejabat pemerintah lebih bijak dalam memberikan pernyataan. Dengan begitu, masyarakat tetap punya optimisme dalam melawan Corona.

“Optimisme dan semangat masyarakat harus tetap dibangun. Karena dengan mereka dan bersama merekalah perlawanan terhadap Corona ini dapat dilakukan,” tandas wakil ketua MKD ini. (jpnn/fajar)

Bagikan berita ini:
8
8
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar