Pecatan TNI Ruslan Buton Ditangkap karena Minta Jokowi Mundur, Begini Respons Mabes AD

Kolonel Inf Nefra Firdaus. Foto: diambil dari kodamjayatniadmilid

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Kadispenad Kolonel Inf Nefra Firdaus buka suara soal penangkapan yang dilakukan terhadap salah satu pecatan TNI Ruslan Buton karena meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mundur. Menurut Nefra, kasus tersebut kini sepenuhnya ditangani oleh Polri.

“Iya benar, sekarang yang bersangkutan sudah ditangani oleh Polri,” ujar Nefra ketika dihubungi JPNN.com, Jumat (29/5).

Nefra pun membenarkan bahwa Denpom TNI AD terlibat dalam penangkapan yang dilakukan di wilayah Kecamatan Wabula, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara pada Kamis (28/5) kemarin.

Menurut dia, hal itu dilakukan karena dari Polri memang ada permintaan bantuan. “Polri memang minta bantuan seperti beberapa kasus (yang melibatkan) mantan TNI,” tambah Nefra.

Namun, lanjut Nefra menerangkan, Denpom TNI AD hanya mendampingi proses penangkapan saja, setelah itu Ruslan berada di bawah penanganan Polri.

“Ditangani Polri karena status Ruslan sudah menjadi warga sipil,” kata Nefra.

Diketahui, Ruslan Buton ditangkap polisi pada Kamis (28/5) siang. Dia digelandang polisi akibat viralnya rekaman suara yang berisi pembacaan surat terbuka kepada Presiden Jokowi, di mana salah satu poinnya meminta agar Jokowi mundur.

Dia bahkan sempat berujar tidak menutup kemungkinan ada revolusi rakyat jika Jokowi tak kunjung melepas jabatannya. (cuy/jpnn)

KONTEN BERSPONSOR

Komentar