Bandingkan Sikap Jokowi dan SBY, Rachland: Dulu Tak Ada Aktivis yang Diteror

Sabtu, 30 Mei 2020 19:24

Jokowi & SBY

FAJAR.CO.ID — Sejumlah kasus teror terhadap aktivis dan akademisi kampus menuai sorotan publik.

Politikus Partai Demokrat, Rachland Nashidik, pun berkicau menanggapi dugaan ancaman pada dosen Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII) Ni’matul Huda.

Ancaman diduga berkaitan dengan rencana Ni’matul memberikan materi dalam sebuah diskusi bertajuk “Meneruskan Persoalan Pemberhentian Presiden Ditinjau Dari Sistem Ketatanegaraan” di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pada awal kicauannya di Twitter, Rachland menyinggung dugaan kebebasan pers telah lebih dulu diteror.

“Setelah Kebebasan Pers diteror, kini giliran Kebebasan Akademis? Dan Pak @jokowi masih belum merasa perlu menegur pendukungnya?” kicau @RachlandNashidik.

Dalam kicauannya Rachland menautkan sebuah berita yang mengangkat judul ‘Dekan FH UII: Guru Besar Hukum Tata Negara Kami Diteror!’.

Rachland berkicau dari Jumat (29/5) malam hingga Sabtu (30/5).

Pada bagian lain kicauannya, kader partai berlambang mercy Ini bercerita soal kebebasan di masa Indonesia dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Dulu ada gerakan massa terorganisir (mulai 2007 hingga 2011) usung isyu “Cabut Mandat SBY”. Tapi tak ada aktivisnya yang diteror, apalagi dibui,” kicaunya.

Rachland kemudian mengingatkan, berpendapat sah-sah saja, termasuk soal topik presiden perlu diganti atau tidak.

Hal yang tidak boleh menurutnya, dikriminalisasi karena berpendapat.

“Berpendapat Presiden perlu mundur atau diganti, tak boleh dipidana. Apalagi bila kebebasan berpendapat itu disuarakan mimbar akademis,” twit @RachlandNashidik.

Komentar