Covid-19, Berikut 11 Cara Hidupkan Hormon Bahagia

Psikolog Caecilia Nirlaksita Rini, S.Psi, M.Si, (Istimewa)

FAJAR.CO.ID, DENPASAR — Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) menghentak semua orang, datang seperti tamu yang tidak diundang.

Kedatangannya seperti serangan atau disaster yang mendadak, disebabkan oleh virus yang ganas Covid 19.

Covid-19 menjadi booming sebagai stressor pada masyarakat. Covid-19 seperti peluru baru yang menyulut munculnya beberapa gangguan kepribadian.

Salah satunya kecemasan, baik mulai kecemasan yang mild atau ringan, kecemasan moderate atau sedang dan extremelly anxiety atau disebut severe anxiety, bahkan panic attack.

Apakah benar hanya Covid-19 yang menjadi peluru yang mentriger gangguan kepribadian ini? Caecilia Nirlaksita Rini, S.Psi, M.Si, psikolog kenamaan Bali memberikan jawaban menarik kepada Radarbali.id.

“Orang yang dikatakan sehat adalah orang yang secara fisik dan mental kejiwaan sehat,” ujar Caecilia Nirlaksita Rini.

Caecilia memaparkan, orang dikatakan bermasalah secara mental dipicu oleh akar masalah yang mengakibatkan perasaan tidak nyaman, bisa berupa kemarahan, kesedihan, takut, cemas, bingung, tidak percaya dan sebagainya.

“Akar masalah dari kita bisa berupa pengalaman trauma masa kecil (terutama), masa remaja dan masa dewasa, kita kenal sebagai critical event. Berupa pengalaman-pengalaman buruk kita,” ungkapnya.

Perasaan yang gundah, galau karena marah, sedih dan takut tersebut mempengaruhi munculnya sekresi hormon kortisol, hormon yang melawan hormon kebahagiaan.

Sehingga kita mulai merasakan ketidakbahagiaan. Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa hidup bahagia?

KONTEN BERSPONSOR

Komentar