Bertahap, BPKH Kurangi Subsidi Biaya Haji

ILUSTRASI: Jamaah haji 2019 saat tawah di Masjidilharam, Makkah. (PPIH Arab Saudi/Jawa Pos)

FAJAR.CO.ID,JAKARTA– Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) berupaya mengurangi subsidi biaya haji. Dalam skema sekarang, pembiayaan haji masih menggunakan subsidi. Anggarannya diambil dari hasil pengelolaan dana haji milik jamaah yang belum berangkat.

Kepala BPKH Anggito Abimanyu mengatakan, subsidi pembiayaan haji hampir sama dengan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Saat ini subsidi biaya haji sudah berada di bawah 50 persen. Anggito berharap sepuluh tahun mendatang subsidi itu tidak ada lagi. ’’Kita akan mengurangi subsidi (pembiayaan haji, Red). Tapi, tidak bisa segera. (Karena, Red) ini pasti menimbulkan beban,’’ tuturnya dalam seminar bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) kemarin (4/6).

Berikut simulasi penghitungan subsidi dalam pembiayaan haji yang diambil dari hasil manfaat dana milik jamaah dalam antrean haji. Jamaah dari embarkasi Surabaya membayar biaya haji Rp 37,5 juta/orang. Padahal, biaya riilnya Rp 71,5 juta/orang atau selisih Rp 34 juta.

Nah, jamaah tersebut sudah antre selama sepuluh tahun dengan setoran awal Rp 25 juta. Dengan hitungan sederhana, jamaah tadi mendapatkan nilai hasil pengelolaan Rp 1 juta/tahun. Karena itu, dalam sepuluh tahun mengantre, nilai manfaat dana haji jamaah tersebut Rp 10 juta. Padahal, selisih biaya yang dia bayar dengan biaya haji riil mencapai Rp 34 juta. Karena itu, ada subsidi Rp 24 juta yang diambil dari hasil pengelolaan dana jamaah yang belum berangkat.

Komentar

Loading...