Keluarga Besar

Panji bersama DI's Way saat masih menjadi sesuatu dulu.

“Panji…!” panggil saya.

Si Gendut mendekat. Lalu terjadilah apa yang ia tulis di link tadi.

Saya sangat tidak rela melihat orang gemuk. Apalagi kalau prestasinya bagus.

Demikian juga sewaktu saya jadi Dirut PLN dulu. Saya menemukan dua GM (General Manager) hebat –tapi gendut. Di depan rapat para GM se Indonesia saya puji prestasi keduanya. Tapi juga saya semprot kegendutannya.

Menjadi gendut itu hak asasi. Tapi kewajiban saya untuk mengurangi risiko beban di perusahaan. Lalu dua orang itu saya tantang: kalau dalam tiga bulan bisa turun 30 kg, akan saya beri hadiah masing-masing Rp 50 juta. Dari uang pribadi.

“Melihat prestasi Anda, saya yakin Anda akan bisa mencapai level direksi,” kata saya. “Tapi kalau badan terus naik begitu jantung Anda tidak kuat untuk jadi direksi,” tambah saya.

Empat bulan kemudian saya ‘kecopetan’ Rp 50 juta.

Delapan tahun kemudian saya membaca berita: salah satu dari mereka itu diangkat menjadi Direktur PLN –lalu menjadi Pjs Dirut PLN.

Orangnya tidak ambisius. Waktu ditawari untuk diangkat jadi Dirut definitif ia tidak mau.

Itulah Djoko Abunaman, pensiun dari direksi belum lama ini.

Sejak saya memanggilnya ke meja bundar itu saya tidak pernah bertemu Panji lagi. Sampai meninggalnya itu.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar