Keluarga Besar

Panji bersama DI's Way saat masih menjadi sesuatu dulu.

Beberapa jam setelah Panji meninggal saya telepon ke nomor ponselnya. Yang menerima suara seorang perempuan. Saya pikir dia istrinya. Saya perkenalkan nama saya. Saat itu juga suara itu hilang. Yang terdengat tinggal isak tangis yang panjang.

“Saya… ibu…nya…Pan.. ji.. Pak,” ujarnyi sangat tersendat.

Saya tunggu sampai isak tangisnya berkurang. Tidak juga reda.

Justru kemudian terdengar raungan.

Sang ibu memang terus menemani Panji di hari-hari terakhirnya. Bahkan sejak awal bulan puasa lalu.

Sang ibu terus membantu Panji. Yang selama bulan puasa sangat aktif menyalurkan bantuan Covid-19. Terutama bahan makanan dari grup Nestle dan kemudian dari grup ABC.

“Rasanya Panji kelelahan,” ujar sang ibu.

Senin lalu Panji mengeluh sulit bernafas. Sebenarnya ia ingin masuk rumah sakit. Tapi masuk rumah sakit di zaman Covid-19 serasa masuk ke sarang musuh.

Sang ibu membawa Panji ke klinik di dekat rumah. Ikut juga istri Panji –yang dinikahinya enam tahun lalu. Ikut juga Adit, adik bungsu Panji yang wajah maupun gendutnya mirim pinang dibelah.

Panji memang belum dikaruniai anak. Mereka biasanya selalu berempat itu di rumah ibunya itu. Rumahnya yang dibeli belum lama ini tidak ditempati.

Panji sebenarnya ingin punya anak. Pun kalau harus lewat bayi tabung. Panji dan istri sudah konsultasi ke dokter Oky –ahli bayi tabung di Surabaya.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar