Tapera di Musim Covid-19

Jumat, 5 Juni 2020 15:22

Oleh : Midian Halomoan Saragi, SH FAJAR.CO.ID — Sebulan lagi sebelum menutup semester I-2020, dunia belum juga reda dari badai kecemasan yang ditimbulkan wabah covid19. Sebagaimana biasa dalam dunia yang sudah sangat terbuka, berbagai informasi baik sahih maupun hoax berseliweran ramai menambah runyamnya misteri yang sedang terjadi. Covid19 bukan saja telah menghantarkan banyak manusia ke rumah peristirahatan berkalang tanah tetapi juga telah menyengsarakan hayat hidup orang banyak khususnya mereka yang disebut sebagai kaum marjinal. Tagline tetap di rumah aja beserta ikutannya terus-menerus dikampanyekan agar menjadi pola hidup dan disiplin yang baru. Rumah tiba-tiba kembali menemukan kehangatannya dan menjadi shelter perlindungan serta pusat kehidupan yang multiguna. Golongan the have juga tiba-tiba kehilangan sumber pundi-pundi kekayaan karena semua mesin produksinya dipaksa berhenti, baik yang berbentuk benda mati termasuk mesin manusianya. Di sisi lain kaum papa dipaksa dalam keterisolasian dengan keterbatasan akses atas makan dan minum. Dampak logisnya adalah pertumbuhan ekonomi yang semula masih bisa diharapkan tumbuh positip terpaksa di koreksi tajam menjadi zero-growth bahkan minus growth.

Kondisi ini dikuatirkan pastilah akan melumpuhkan perekonomian yang akan berdampak ke aspek poleksosbudhankam. Negara bisa gagal, sesuatu harus dilakukan. Diam adalah emas bukanlah suatu nasehat yang pas untuk saat ini. Pertarungan antara tetap hidup, dengan menghindari kejangkitan yang lebih besar dari covid19, dengan strategi untuk menghindari kelumpuhan ekonomi yang akibatnya sangat fatal memaksa dunia mulai mengambil sikap dalam cara hidup baru dengan format new normal. Ekonomi mulai dihidupkan perlahan dengan membuka simpul-simpul bisnis dan social yang terbatas dan terseleksi. Semua ini, khususnya di Indonesia, adalah dimaksudkan untuk menolong dan menyelamatkan hayat hidup orang banyak. Stimulus dan insentif yang diberikan sebagai jejaring sosial dan ekonomi, baik dengan memberikan bantuan tunai langsung maupun dengan membebaskan beberapa tarif bagi golongan masyarakat pra-sejahtera, dirancang sepenuhnya untuk tetap menjaga daya beli konsumsi masyarakat. Daya beli yang melemah bahkan hampir lumpuh bagi sebagian masyarakat untungnya dapat diatasi juga berkat rasa keperdulian dan roh gotong royong masyarakat dalam aksi kepedulian yang sangat besar. Inilah contigency planning yang untungnya skenarionya berhasil dijalankan. Kebijakan Fiskal Nonpopulis

Bagikan berita ini:
4
5
5
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar