Dana Haji Digunakan Perkuat Rupiah, Begini Bantahan BPKH dan BI

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Penundaan ibadah haji di tengah Covid-19 muncul kabar dana haji digunakan untuk memperkuat nilai tukar Rupiah. Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menampik tudingan tersebut. Sebab dana haji lebih besar berupa valuta asing (valas) dibandingkan Rupiah.

“(Dana haji) Bentuknya valas dan Rupiah. Lebih banyak valas daripada Rupiah, jumlahnya Rp14,5 triliun. Sekitar Rp8,5 triliun dalam bentuk valas, dan sisanya Rupiah,” kata Kepala BPKH, Anggito Abimanyu dalam video daring, Jumat (5/6/2020).

Posisi dana haji per Mei 2020 mencapai Rp135 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp132 triliun merupakan setoran awal dan nilai manfaat. Dan, sisanya Rp3,4 triliun merupaan Dana Abadi Umat (DAU).

Lebih lanjut Aggito menegaskan, dana haji yang dominan berbentuk valas bukan digunakan untuk penguatan Rupiah sebagaimana kabar yang beredar. “Dalam mengelola valas tentu kami berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas. Tapi kami tidak bertugas untuk melakukan penguatan rupiah,” ujarnya.

Mengenai dana haji tahun 2020 yang tak terpakai, BPKH memiliki dua opsi aakah tetap menyimpan dalam bentuk valas, atau menjual ke Rupiah. “Saat ini imbal hasil dari deposito Dolar itu hanya 1 persen, kalau dengan Rupiah itu 5-6 persen, kalau dibelikan sukuk 7-8 persen. Kalau diinvestasikan langsung bisa 9-10 persen. Jadi pilihan kami adalah mencari portofolio yang memberikan nilai optimal untuk jamaah haji,” paparnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Adi Mirsan


Comment

Loading...